Deaf.03. Teori-teori politik


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:595.35pt 842.0pt; margin:85.05pt 70.9pt 70.9pt 85.05pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:64256810; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1982532476 -207090672 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:normal;} @list l1 {mso-list-id:134949750; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:637845112 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-.25in;} @list l2 {mso-list-id:157577700; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:813069938 67698697 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l3 {mso-list-id:389812732; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:602559320 67698689 67698711 -607098450 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-text:”%2\)”; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3:level3 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-text:”%3\)”; mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l4 {mso-list-id:558982923; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-622832486 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l5 {mso-list-id:1231037328; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-203008084 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l5:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l6 {mso-list-id:1820416805; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1947825944 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l7 {mso-list-id:1874271432; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:84048304 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l7:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l8 {mso-list-id:1918898977; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:187577554 -420473096 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l8:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:normal;} @list l9 {mso-list-id:2098790755; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1136310316 67698689 67698705 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l9:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l9:level2 {mso-level-text:”%2\)”; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
Deaf.03.TEORI POLITIK

Memperhatikan Etika Dasar Politik

Teori politik adalah bagian dari ilmu politik, teori politik terfokus pada hal-hal yang bersifat pertanyaan normatif dan mengenai etika politik. Pada bagian ini, kita akan mendalami beberapa isu-isu normatif yang telah lama ada yang telah mengacaukan teori politik selama ini. Tujuan kita akan dibagi menjadi dua: untuk memahami sejarah dan pembelajaran dari teks mengenai teori yang kita pelajari, tetapi juga untuk pembelajaran mereka supaya dari latar belakang sejarahnya sendiri dan mengamati apakah pembelajaran yang seperti itu masih berhubungan terhadap kita untuk berjuang dengan permasalahan politik, sosial, dan ekonomi pada abad ke-21 ini.

Mengamati Teori Politik:

“Kiasan Sebuah Gua” dari Plato

Pada zaman Yunani kuno, Plato adalah salah satu filsuf terkemuka. Keluarganya termasuk pemimpin politik terkemuka, dan dia dihormati di Athena, pertama karena perjanjian yang dibuatnya selama Athena berperang melawan Sparta dan kedua karena sumbangannya di bidang kebudayaan dan kepandaiannya. Plato memiliki guru yang bernama Socrates (470?-399 SM), mereka hidup pada masa perang Pelloponesia (405 SM) antara Sparta dan Athena, yang akhirnya dimenangkan oleh Sparta.

Plato juga memiliki suatu akademi pengajaran, yang mengajari murid-muridnya sekitar tahun 387? SM dan 529 M. Akademi ini juga mengajar Aristoteles. Plato memiliki guru yang bernama Socrates, Socrates inilah yang memiliki kontribusi besar dalam perjalanan filosofi Plato. Plato menjadikan Sicrates sebagai figur dambaannya, sekaligus banyak mempengaruhi karya-karyanya.

Dalam karangannya yang berjudul The Republic, Plato menghadirkan suatu kiasan yang berguna untuk menggambarkan kesulitan dan kritikan yang diterima pada analisa filosofis. Kiasan ini (Allegory of The Cave) mungkin terkesan sebagai perbandingan teori politik itu sendiri. Sebagaimana halnya perbandingan dan kiasaaan, kejelasannya tidak terletak pada kelengkapan ceritanya, tapi lebih terletak kepada teka-teki filosofis yang terdapat pada kelengkapan ceritanya. Singkatnya, Plato memiliki karakter Socrates yang memulai kiasan sebuah gua dengan bercerita kepada kita bahwa kiasan ini diharapkan untuk bisa menjelaskan proses pencapaian suatu pengertian dan pencerahan (penyadaran) mengenai teori politik.

Apakah keadaan manusia cenderung kepada kesadaran atau pengabaian? Socrates menekankan bahwa untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus membayangkan diri kita hidup dalam gua. Sebagai penghuni gua, kita tidak menyadari tentang aspek yang paling mendasar pada lingkungan kita. Misalnya, kita tidak tahu bahwa sebenarnya kita berada dalam gua, karena kita berpikiran bahwa di sekeliling kita adalah keseluruhan alam semesta. Kita tidak berpikir bahwa di atas kita terdapat lapisan tanah, langit dan matahari karena secara otomatis kita mempercayai semua yang kita lihat adalah semua hal yang ada (nyata). Socrates menjelaskan pandangan kita di dalam gua sangat terbatas. Gua ini sangat gelap, dan sangat sulit untuk mengetahui suatu gambaran ataupun bentuk. Bagaimanapun karena kita telah terbiasa hidup dalam gua, kita tidak merasakan bahwa gua ini gelap dan buram sekali, bagi kita yang di dalam gua semuanya terlihat biasa-biasa saja.

Kiasan ini cukup bagi kita untuk mengilustrasikan kepada kita supaya kita bisa memiliki analisa yang tajam dan pemikiran yang kritis mengenai politik. Berpikir kritis memang tidak mudah dan terkadang mengganggu dan sering pula menghasilkan kesimpulan yang diterima oleh masyarakat kita “tidak lebih nyata” daripada bayangan di dinding. Sebagai hasilnya teori politik telah menghasilkan pemikiran yang sering kali kontroversial dan terkadang mendapat tanggapan yang keras dari lawan. Bagaimanapun suatu teori membutuhkan pertanyaan-pertanyaan tentang isu-isu normatif politik, ibaratnya menawarkan jalan kecil menuju luar gua. Teori-teori itu memasuki wilayah kontroversial, sebagaimana yang kita lihat pada bagian berikut.

Beberapa Pertanyaan Mendasar dalam Politik

Tujuan Apa yang Seharusnya Diperjuangkan Oleh Negara?

Pertanyaan tadi emrupakan salhasatu persoalan dalam teori politik, kita bisa mengkaji ajaran dari Plato dan Hobbes untuk mendapatkandua pendekatan yang berbeda untuk menghadapi persoalan ini. Plato (dalam The Republic) menyarankan bahwa tujuan negara adalah menegakkan keadilan dan bentuk yang terbaik adalh yang mengutamakan keadilan. Keadilan merupakan “sifat yang mengikuti” (following nature). Lebih jauh lagi, Plato menjelaskan bahwa ada tiga golongan sifat pada mayarakat. Beberapa orang secara alami akanmenginginkan menajdi buruih dan kaum oekerja; lainnya secara alami ingin melibatkan diri menjadi sukarelawan (pembantu) atau pemimpin militer; dan sisanya secara alami ingin menjadi pekerja pelayan publik dan pembuat keputusan dan oleh karena itu memasuki golongan penguasa. Plato mempercayai bahwa para filsuf seeprti dirinya secara alami cocok untuk menjadi golongan penguasa, lebih jauh lagi hampir keseluruhan filsuf mengikuti kehidupan dari alasan yang natinya mereka akan mencari kebenarannya sendiri.

Plato menjelaskan ketidakadilan sebagai perilkau yang menyimpang terhadap hati nurani. Oleh karena itu jika seseorang sudah cocok menjadi buruh tapi ingin menjadi penguasa maka hal ini tak bisa dibenarkan. Perlu dicatat teori dari Plato mengecam adanya usaha untuk kemajuan, persaingan untuk menjadi panutan yang terbaik di segala bidang baik secara fisik maupun mental.

Beberapa pembaca telah terkejut dengan adanya pembagian tiga kelas sosial dari Plato. Plato juga membuat sebagian orang merasa putus asa dengan adanya tingakatan (hierachical) dan authoritarian, Plato tidak hanya menyerang demokrasi tapi juga menyebut para komentator sebagai orang yang egois. Plato memandang bahwa para filsuf (seperti dirinya) sebagai golongan yang paling cocok sebagai pembuat keputusan suatu negara.

Thomas Hobbes hidup pada abad ke-17, Hobbes merupakan aktor teori politik di Inggris. Dia belajar di Oxford, tinggal ebentar di Paris dan bertemu filsuf Rene Descartes, lalu bepergian ke Italia dan bertemu Galileo, dan menjadi pendamping Charles II. John Aubrey menganggap kehidupan Hobbes begitu suram, Hobbes hidup dengan banyak gosip yang memojokkan dan Hobbes menjadi takut untuk tidur sendiri di rumahnya.

Dalam karyanya Leviathan, Hobbes mengatakan bahwa ia tidak ada perhatian terhadap para filsuf zaman dahulu untuk mengerti tentang politik. Apa tujuan dari sebuah negara? Menurut Hobbes, kita tidak akan tahu jawaban itu sampai kita mnegerti terlebih dahulu jawaban dari pertanyaan lain seperti: Apa itu sifat manusia? Hobbes menyimpulkan bahwa untuk mengerti bagaimana kehidupan manusia, kita harus melihat jiwa kita masing-masing, jika sedah melakukannya maka kita akank melihat bahwa dalam jiwa ada nafsu, rindu, ketakutan, dorongan bertindak agresif dan naluri untuk mendapat kekuasaan. Bagaimanapun kita akan menemukan unsur-unsur rasionalitas.

Menurut Hobbes, kekuasaan (power) bisa berarti negara. Tujuan dari negara adalah menyelenggarakan keamanan melalui pencegahan dan karenanya mari mendukung pertahanan kemanusiaan. Pendapat ini berbeda denga Plato, Hobbes menolak apa yang ia pikirkan menjadi terlalu tinggi dan hanya impian semu dalam pencapaian sempurna mengenai negara.

Haruskah Negara Meningkatkan Persamaan?

Para pelaku teori politik tidak menyetujui mengenai adanya persamaan dan adanya isu-isu lain yang berhubungan dengannya. Tidak ada kesepakatan mengenai bagaimana persamaan harus didefinisikan atau pertanyaan apakah persamaan harus ditingkatkan melalui kebijakan pemerintah. Untuk mendapat pengertian tentang bagaimana ketidaksepakatan telah dipisah oleh teori politik selama seabad ini, mari kita lihat pada pengajaran dari Aristotle, Thomas Jefferson, Tecumseh, Chico Mendes, Friedich Nietzsche dan Kurt Vonnegut.

Aristoteles adalah murid dari Plato, ia juga berasal dari keluarga tak terpandang. Aristotle merupakan guru Alexander agung. Penagmatan sdari Aristotle memberi kita kesempatan untuk berpikir mengenai apa yang terdapat dalam “persamaan”, ia bependapat bahwa hal ini bisa berarti bnayak hal. Dia juga menyarankan bahwa persamaan yang paling baik adalah yang paling baik melayani kehidupan manusia, bilamana persamaan dimengerti untuk diartikan sebagai pembagian keuntungan. Sehingga persamaan harus ditingkatkan oleh negara.

Aristotle mengidentifikasi adanya enam bentuk pemerintahan, yang mana tiap bentuknya bertindak terdiri dari dua unsur: siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai. Berikut ini adalah pembagiannya:

1. Monarki : Pemerintahan oleh satu orang demi tujuan bersama

2. Aristokrasi : Pemerintahan oleh sedikit orang demi tujuan bersama

3. Polity : Pemerintahan oleh banyak orang demi tujuan bersama

4. Tirani : Pemerintahan oleh satu orang demi tujuan yang memerintah

5. Oligarki : Pemerintahan oleh sedikit orang demi tujuan yang memerintah

6. Demokrasi : Pemerintahan oleh banyak orang demi tujuan yang memerintah

Menurut Aristotle, monarki, aristokrasi, dan polity adalah pemerintahan yang tepat karena tiap-tiap bentuknya bertindak demi semua tujuan sebagai pertimbangan yang berguna. Tidak ada tujuan yang luput dari pertimbangan. Dalam tiga bentuk pemertintahan ini, tidak peduli berapa banyak yang dilibatkan dalam proses pemerintahan, sebab semua diatur oleh negara. Aristotle menganggap Tirani, Olgarki, dan Demokrasi sebagai bentu pemerintahan yang tidak tepat karena tujuan-tujuannya tidak dipertimbangkan dengan persamaan.

Thomas Jefferson (1743-1826) memberikan suatu pandangan yang menyangkut persamaan, Jefferson memiliki banyak kontribusi terhadap politi di USA. Pengalamannya juga lumayan banyak, dalam badan Kolonial Pembuat Undang-Undang di Virginia, adalah sebagai delegasi kepala Kongres Kontinental; Gubernur Virginia; bertindak sebagai Sekretaris Negara yang pertama; dan terpilih sebagai Presiden USA yang ketiga. Jefferson juga merupakan penyusun utama naskah kemerdekaan, di mana pada tahun 1776 membuat argumen untuk kemerdekaan Amerika. Deklarasi yang dilakukan oleh Jefferson merupakan bentuk dari persamaan (lebih tepatnya persamaan mengenai hak alamiah).

Tecumse lahir di Ohio, ia merupakan ahli teori shawn yang pada awal abad 19 menolak adanya persamaan hak natural dengan suatu penekanan atas hak milik. Sebagai aktivis dan pemikir politik, ia berpendapat bahwa tanah leluhur diberikan orang kulit putih melalui perjanjian yang dirundingkan dengan para pemimpin (kepala suku) Amerika asli atas dasar doktrin persamaan natural. Secara khusus, Tecumseh berpandangan bahwa suatu kekuatan rohani menempatkan orang Amerika asli pada negeri mereka dan bahwa masing-masing anggota masyarakat mempunyai persamaan dan hak natural di tanah itu.

Persamaan konsep antara Jefferson dan Tecumseh adalah mengenai hak sebagai atribut orang-orang.

Chico Mendez (1944-!988) mengeluarkan pemikirannya tentang persamaan (equality of participation) melalui aktivitas dan tulisan. Mendez sebenarnya adalah seorang yang berprofesi sebagai penyadap getah karet dan aktivis organisasi di Brazil.

Mendez dan koleganya (sesama penyadap getah karet) berpendapat bahwa tak seorangpun mengenal hutan sebaik atau sedetail orang-orang yang tinggal di dalamnya. Mereka dengan bantuan dari Kelompok Lingkungan Internasional mulai tertarik untuk mencegah penebangan hutan secara liar oleh pengembang industri dan pengusaha lain. Sumber daya di dalam area akan disadap, tetapi area adalah integritas ekologis yang akan dipelihara.

Friedrich Nietzsche (1844-1900) barangkali merupakan merupakan salah satu tokoh teori politik paling kontroversial pada masa modern. Nietzsche berpendapat bahwa persamaan (sebagai suatu konsep) sebenarnya berakar dari tipe moral yang jelas. Dia mengatakan bahwa moral ini sebagai moral budak, yang diartikan sebagai moral dari orang-orang lemah dan karena itu dibuat untuk melayani kepentingan orang-orang lemah. Moral budak (slave morality) berkebalikan dengan moral dari ahli (master morality), kode etik yang melayani pihak yang kuat dan menghormati atribut yang kuat, yang menaklukkan, mendominasi dan yang memutuskan. Moral budak menganggap “buruk” segala sesuatu yang disebut oleh moral ahli sebagai hal yang “baik”. Moral ahli mengatakan baik mengenai apa yang dianggap oleh moral budak sebagai suatu kebaikan.

Persamaan merupakan bagian dari moral budak, pihak yang lemah menganggap persamaan sebagai suatu “kebaikan” dan “beradab” karena mereka ingin merusak posisi terhormat dari pihak yang berkuasa. Persamaan, sebagaimana pandangam Nietzsche, merupakan desas-desus bagi masyarakat yang ingin merusak semuanya yang telah berhasil. Demokrasi menuerut pandangan N merupakan contoh dari moralitas budak, jika demokrasi tidak mengajarkan untuk mengistimewakan sesuatu di atas yang lain. Apakah yang melatar belakangi adanya persamaan? Jika N benar, kebencian ada di balik itu semua, yang mengarahkan untuk menghukum siapa saja yang unggul, atau yang telah mencapai puncak dan yang telah mencapai posisi yang kuat. Mereka inilah yang dipojokkkan oleh orang-orang bermoral budak. Orang-orang dengan moralitas budak menganggap “kebaikan” itu sebagai suatu keadaan yang terjadi jika semuanya menjadi dalam satu tingkatan, karena pada kondisi seperti inilah terdapat suatu persamaan.

Kaum Kristen menurut N, adalah sebuah contoh dari sebuah moralitas budak. Dalam ajaran pengampunan, kemanusiaan, dan kelembutan. N memperkenalkan “konsep kebencian” untuk membuat argumen bahwa dalam moralitas budak tersembunyi rasa dendam untuk mengalahkan kaum kuat (karena mereka dendam dengan kaum kuat) dengan cara mengatakan sesuatu yang “buruk” terhadap hal-hal yang membuat penguasa semakin menjadi kuat.

Pada tahun 1961 Kurt Vonnegut (penulis Amerika) mempublikasikan sebuah cerita pendek yang berjudul Harrison Bergeron, yang mana karakter-karakter dan latar-latarnya menawarkan ruang praktek fiksi untuk menmguji konsep dari N. Ceritaini berlatar belakang Amerika pada tahun 2084, dimana hukum-hukum telah membuata setiap orang sepenuhnya menjadi sama. Jika salah seorang mencari ketidaksamaan dengan membandingkan terhadap orang lain maka ketidaksamaan itu akan menghilang dengan cepat.

Pada cerita Vonnegut kita bisa mengamati bagaimana pemikiran seorang Nietzsche. Pertama, mengenai persamaan menjadi dasar untuk penyerangn terhadpa mereka semua yang ingin menggunakan kemampuan mereka untuk menjadi kuat dan berpengaruh. Kedua, persamaan adalah hal yang tak bisa dihindari, sebagimana dengan kedudukan melayani diri sendiri. N pernah berkata bahwa persamaan bukanlah konsep yang netral, tetapi konsep yang membahayakan yang satu dan menguntungkan yang lain.

Kita bisa mengamati cerita dari Vonnegut seperti halnya kita bercerita tentang beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan dasar dari persamaan normatif, yaitu:

  • Mungkinkah menjadikan semua sama tanpa merugikan orang lain ?
  • Haruskah seorang individu menjadi sama dalam segala hal ?
  • Haruskah sebuah hukum mengikuti secara terus-menerus bahwa hukum menyediakan suatu persamaan dari sebuah kemampuan daripada persamaan dari kesempatan ?
  • Bisakah persamaan menjadi suatu dasar dari penindasan ?

Haruskah Negara Menjadi Organisasi untuk Memaksimalkan Kekuasaan atau Organisasi untuk Menahan Kekuasaan ini?

Machiavelli (1469-1527) berpendapat bahwa sebuah negara tidak harus mengikuti keinginan warga negaranya untuk tumbuh menjadi kuat yang nantinya bisa menyerang negara itu sendiri. Oleh karenanya Machiavelli membenarkan adanya tindakan negara untuk melemahkan golongan ekonomi untuk mencegah mereka menjadi lawan yang kuat terhadap pengelola negara, dan dia juga menyarankan supaya negara tetap menjaga warga negaranya dalam keadaan ketakutan. Machiavelli memutuskan bahwa ketakutan merupakan kekuatan utama untuk berkuasa. Alasannya adalah masyarakat yang membenci negara mungkin akan berkembang melawan negaranya sendiri dan masyarakat yang mencintai negara tidak bisa dikendalikan (mereka mencintai ataupu tidak ebrdasarkan keinginan mereka, Machiavelli mengatakan tidak mungkin membuat seseorang mencintai negara), namun masyarakat yang takut kepada negara perilakunya bisa diatur oleh negara. Untuk alasan inilah Machiavelli berargumen bahwa negara harus memaksimalkan dan mengamankan kekuasaan mereka jika mereka ingin berkuasa melalui ancaman.

Lain halnya dengan Madison (1751-1836) yang melihat negara dari perspektif yang berbeda. Madison berpendapat negara seharusnya secara intens membatasi kekuatan separatis dengan melakukan pengecekan dan penyeimbangan, ia pun dalam tulisannya menyatakan bahwa legislatif, eksekutif, dan yudikatif harus dipisahkan dalam lembaga yang berbeda. Sebab jika dipersatukan dalam satu lembaga bisa berbahaya, sangat berpotensi menjadi suat7u tirani. Madison percaya bahwa karena hal yang seharusnya dilakukan di atas maka negara dapat membuat hukum dan menggunakannya. Pemisahan kekuasaan ini diatur oleh sistem “check and balance” yang salah satunya memiliki kemampuan untuk menahan aktivitas yang lain. Hal ini memiliki efek membatasi kekuatan negara. Oleh karena itu pada dasarnya kekuatan-kekuatan ini saling melemahkan.

Negara versi Madison diatur untuk “mematikan” negara versi Machiavelli yang menggunakan kekuasaan dalam bentuk kekejaman terhadap rakyat. Namun kedua pemikiran ini (Machaivelli dan Madison) sama-sama menghasilkan pertanyaan besar tentang bagaimana etika untuk memerintah dan memimpin. Dan yang lebih penting lagi kegiatan ini membuat kita bertanya akan mana yang tepat, antara model pemerintahan yang membatasi kekuasaannya untuk melindungi penduduknya ataukah pemerintahan yang melindungi penduduknya melalui model organisasi yang memaksimalkan kekuasaan sebagai pelindung ?

Haruskah Negara Membantu Kita Menjadi Lebih Beretika?

Ketika isu-isu mengenai etika muncul maka akan muncul pula pertanyaan normatif seperti: akan jadi jalan terbaikkah jika negara tidak mengambil keputusan etik, sebanyak mungkin, kalau bisa diputuskan oleh perorangan (individu); atau seharusnya negara mengambil posisi pada isu politik, memutuskan hal apa yang etik, dan menuntut kepada warganya agar hidup secara konsisten dengan posisi etik yang diambil oleh negara? Siapa yang memutuskan apa yang etik-individu ataukah negara? Pertanyaan ini cukup sulit untuk dijawab, barangkali tidak ada pertanyaan normatif dalam ilmu politik yang lebih sulit untuk dijawab.

Negara secara rutin memperkuat posisi etik. Singkatnya ketika negara memberikan dan memperkuat hukum untuk melawan segala macam tindakan yang tergolong kriminal, negara menentukan kode etik pada suatu penduduk. Dengan kata lain, kita mungkin menerawang sejarah dari teori politik untuk melihat bahwa para filsuf tidak menyetujui dalam hal mengapa seperti halnya penekanan seharusnya diminimalkan atau malah ditingkatkan. Beberapa ahli teori telah mengambil posisi bahwa negara seharusnya menghindar untuk menjauh dari keputusan moral individu, yang mana yang lain menyatakan bahwa negara seharusnya dilibatkan langsung dalam pembuatan keputusan.

Seorang filsuf Inggris, John Stuart Mill, berpandangan bahwa individu harus dibiarkan untuk melihat dan menilai hal-hal serta pertanyaan etis yang beredar di masyarakat untuk diri mereka sendiri. Mill berpendapat bahwa pemerintah tidak boleh ikut campur terhadap hal-hal individual (pribadi) jika tidak individual akan bersikap mengancam kepada yang lain, Mill menolak anggapan bahwa pemerintah mengetahui apa yang terbaik bagi semuanya.

TEORI POLITIK

Dalam interpretasi saya kali ini saya akan membahas mengenai negara, karena artikel ini banyak membicarakan mengenai negara. Andrew Heywood dalam bukunya Politics, memberikan lima kemungkinan kata kunci untuk mendefinisikan negara, yaitu:

v Negara merupakan sebuah kedaulatan

v Negara (lembaga negara) merupakan suatu pengakuan publik

v Negara adalah penggunaan legitimasi

v Negara merupakan instrumen daripada suatu dominasi

v Negara adalah gabungan dari wilayah teritorial

Kemudian saya akan membahas mengenai munculnya konsep negara, atau lebih tepatnya konsep negara-bangsa.

Asal dan Munculnya Negara-Bangsa (nation-state)

Banyak sekali pandangan mengenai konsep nation-state, karena sekarang sudah banyak ahli yang membuat konsep mengenai hal ini. Akan tetapi apakah nation-state itu?

nation-state adalah suatu hasil dari modern world; setiap bangsa harus mempunyai negara, akan tetapi nation-state itu harus memiliki kedaulatan. nation-state pertama kali muncul ketika perjanjian Westphalia pada tahun 1648, yang juga berakhirnya Perang 30 tahun antara kaum Protestan dan Katolik.

Menurut perjanjian Westphalia (1648), state didefinisikan sebagai berikut:

1. Legitimasi

Berarti bahwa seluruh state mempunyai hak untuk berada dan pemerintah mempunyai otoritas untuk melakukan tugasnya karena hal tersebut sah (lawful).

2. Sovereignty

Hal ini berarti tidak ada otoritas yang lebih tinggi dari suatu negara. Seperti PBB yang terdiri dari berbagai negara, akan tetapi PBB tidak dapat mencampuri urusan atau kedaulatan suatu negara. Karena setiap negara memiliki hak untuk mengurus dan menentukan nasibnya sendiri.

3. Formal Obligation

Suatu aturan yang dibuat berdasarkan hukum internasional yang digunakan untuk mengimplementasikan kesepakatan untuk melanjutkan suatu kelegitimasi suatu pemerintahan ke suatu negara[1].

Dalam hubungan internasional (sebagai suatu disiplin ilmu) nation-state diutamakan, sebab hubungan internasional itu sendiri muncul karena adanya nation-state. Konsep nation-state diuraikan menjadi 2 bagian, yaitu:

  1. State (statism), sesuatu yang mengungkapkan kelebihan suatu negara dibahas dalam statisme. Dikatakan statis karena itu rigid, sebab state mempunyai kedaulatan yang tidak bisa diganggu gugat dan kedudukan setiap negara adalah sama ditinjau dari segi kedaulatannya.
  2. Nation, dalam konsep ini akan berhubungan dengan nation itu sendiri, nationalism dan national.

Pihak yang pertama memunculkan konsep nation-state adalah Inggris, Prancis dan Jerman. Namun mereka jugalah yang melanggarnya, yakni melalui praktek kolonialisme dan imperlialisme. Dengan demikian, konsep nation-state itu sendiri tidak pernah pasti, karena tidak pernah terpisah dari konsep lain.

Dalam Revolusi Prancis, konsep nation-state itu berkaitan dengan:

  1. Kebebasan manusia
  2. Demokrasi

Dalam negara-negara Arab (terutama yang Islam), konsep nation-state itu tidak pernah pasti, mereka menyebutnya Quaste State, sedangkan di Afrika dinamakan Flag State, sebab menurut mereka konsep nation-state yang utuh didalamnya harus benar-benar diterapkan human rights dan democracy. Nation-state menurut pandangan tradisional mempunyai konsep : behavior of state dan the interaction of each other (perilaku sebuah negara dan berhubungan yang satu dengan yang lain).

Suatu negara harus mempunyai area tertentu dibawah pemerintahan yang berdaulat (territory) dan rakyat (citizen). Setiap warga negara (citizen) mempunyai kewajiban (obligation) dan benefit atau keuntungan dari negara, yaitu kewajibannya adalah pembayaran pajak terhadap negara dan keuntungannya adalah infrastruktur dari pemerintah.

Definisi mengenai negara

a) Max Weber :”The state is a human society that (succesfullly) claims the monopoly of the legitimate use if physical force within a givven territory”.

b) Logemann :”De staat is een maatschappelijke organisatie,die tot doel heeft om met haar gezag een bapalde samenleving te ordenen en te verzorgen”.(Negara adalah suatu organisasai kemasyarakatan yang bertujuan untuk dengan kekuasaannya mengatur dan mengurus suatu masyarakat tertentu).

c) Harold J Laski :”The state is society which is integrated by possesing a”. coercive authority legally supreme over any individual or group of human beings living together and living together for the satisfaction of their mutual wants.Such a society is a state when the way of live to which both individual or association must conform is defined by a coercive authority binding upon them all

d) Roger H.Soltau:”The state is agency or authority managing or controlling these (common) affairs on behalf of and in the name of the community”.[Negara adalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur dan mengendalikan persoalan-persoalan bersama ,atas nama masyarakat].

e) J.K.Blunthscli :”The state is a combination of a men in the form of government and governed on a definite territory,inited together into a moral organized masculine personality,more shortly,the state is plitical organized national person of a definite country”.(Negara merupakan assosiasi manusia dalam bentuk pemerintah dan yang diperintah pada suatu daerah tertentu dan dipersatukan kedalam pribadi moral kelaki-lakian yang terorganisir,atau lebih singkat lagi,negara adalah suatu pribadi nasional dari suatu negeri yang terorganisir secara politis.

Syarat berdirinya suatu negara:

1) Penduduk,yakni sejumlah orang yang berkediaman tetap dalam suatu wilayah tertentu yang dijadikan wilayah negara;

2) Wilayah atau daerah,ialah suatu bagian tertentu yang didiami secara tetap oleh penduduk negara;

3) Pemerintah,yaitu organisasi politik yang menyatakan dan melaksanakan kehendak serta undang-undang negara;

4) Kedaulatan,yaitu kekuasaan tertinggi suatu negara terhadap unit-unit dalam batas wilayah negara serta kebebasan negara dari suatu kekuasaan lain yang berada diluar negara.

Sifat-Sifat Negara

Negara sebenarnya memiliki sifat-sifat yang berlaku mutlak, di antaranya adalah:

f) Sifat Memaksa: Negara memiliki sifat ini sehingga seluruh warga negara harus mematuhi segala aturan yang berlaku di dalam negara itu. Sifat memaksa ini bisa berarti paksaan secara fisik maupun paksaan secara mental, paksaan ini berifat legal.

g) Sifat Monopoli: Negara bersifat monopoli maksudnya apa yang menjadi tujuan negara harus dilaksanakan oleh semua warga negara. Warga negara tidak boleh memiliki tujuan lain.

h) Sikap Mencakup Semua: Apa yang dimaksud di sini adalah semua peraturan perundang-undangan harus berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali. Kondisi seperti ini memang perlu, sebab jika seseorang dibiarkan berada diluar ruang lingkup aktivitas negara, maka usaha negara ke arah tercapainya tujuan masyarakat yang dicita-citakan akan gagal.

Konsep Kedaulatan

Nation-state mempunyai hubungan dengan sovereignty state yang dalam hal ini adalah kedaulatan rakyat. Negara yang berdaulat muncul setelah Revolusi Prancis merupakan negara yang pertama kali memiliki kedaulatan. Istilah sovereignty pertama kali diperkenalkan oleh Jean Bodin-namun tujuan Bodin memperkenalkan sovereignty adalah untuk mempertahankan kekuasaan kerajaan Perancis (pada tugas individu kedua sudah saya bahas). Dimana yang disebut negara berdaulat karena negara tersebut memiliki kedaulatan. Pada waktu itu yang dimaksud dengan kedaulatan adalah raja, dengan tujuan membentuk kekuatan dalam rangka justifikasi.

Menurut Jean Bodin, pada dasarnya raja atau negara berdaulat atas hak miliknya. Peraturan raja sama dengan peraturan Tuhan. Sehingga otomatis apabila menuruti peraturan raja, maka peraturan Tuhan juga akan terpenuhi. Realisme menjadikan negara menjadi aktor utama karena negara berdasarkan dengan adanya kedaulatan, negara tidak dapat diganggu keberadaannya sebagai aktor utama.

Kedaulatan dibagi dua, yaitu:

  1. Internal Sovereignty

Suatu negara berdaulat apabila menguasai seluruh tanah airnya termasuk di dalamnya yurispudensi yang juga meliputi orang-orang di dalamnya. Sifat ini disebut Internal Sovereignty. Konsekuensinya adalah negara-negara dianggap mempunyai kedaulatan dalam negara tersebut dan hak memonopoli hal yang ada pada negara tersebut. Kedaulatan diperkuat dengan adanya PBB yang menumbuhkan bahwa kedaulatan tidak dapat diintervensi, bahkan PBB sekalipun. Karena tidak dapat diintervensi, kedaulatan menjadi hambatan negara lain bila terjadi sesuatu dalam negara tersebut, contohnya pelanggaran HAM dalam suatu negara.

  1. External Sovereignty

Yang dimaksud dengan External Sovereignty adalah pengakuan kedaulatan dari negara lain terhadap negara yang berdaulat. Pengakuan kedaulatan antara negara satu dengan negara lainnya dikenal dengan resiprocity. Dua negara atau lebih dapat melakukan hubungan kerja sama karena saling menghormati kedaulatan satu sama lain. Oleh karena itu, kedaulatan menjadi sarana kekuatan dan akhirnya memunculkan konsep balance of power dimana negara-negara mempunyai kekuatan yang berbeda tetapi kedaulatan yang sama.

Secara umum kedaulatan dapat dibagi menjadi dua, yaitu kedaulatan internal dan eksternal. Kedaulatan internal menyangkut kepada prinsip yang melegitimasi organisasi dan kontrol politik internal. Kedaulatan internal atau disebut juga kedaulatan empiris (empirical sovereignty) berkaitan dengan rakyat, wilayah, dan kewenangan yang diakui (recognized authority).

Sifat-sifat kedaulatan :

  1. Tidak ada otoritas yang lebih tinggi dari pada suatu negara.
  2. Tidak ada negara atau organisasi internasional yang mengganggu kedaulatan suatu negara.
  3. Negara berhak membuat semua kebijaksanaan atau keputusan untuk warga negaranya.

Kedaulatan atau Sovereignty adalah ciri atau atribut hukum dari negara-negara dan sebagai atribut negara dia sudah lama ada, bahkan ada beberapa pendapat bahwa kedaulatan itu mungkin lebih tua dari konsep negara itu sendiri. Sobereighnity (bahasa Inggris) mempunyai arti yang sama dengan sovereiniteit (bahasa belanda), yang berarti tertinggi. Membicarakan tentang kedaulatan berarti membahas tentang kekuasaan, sebab pengertian atau makna kedaulatan adalah konsep mengenai kekuasaan yang tertinggi untuk memerintah dalam suatu negara. Kedaulatan negara berintikan minimal tiga hal: yaitu pemerintahan nasional yang berkuasa ke dalam dan keluar; Tentara Nasional sendiri dan mata-uang sendiri. “An own government; an own army and an own coin system. Kalau minimal tiha hal ini tidak dimiliki oleh negara, maka ia tidak berdaulat penuh.

Sekarang saya akan memulai untuk membahas tentang beberapa pertanyaan yang mendasar dalam politik.

Tujuan apa yang seharusnya diperjuangkan oleh Negara?

Suatu negara yang memiliki berbagai suku bangsa dan ras berupaya membentuk suatu bangsa baru dengan identitas budaya yang baru pula. Hal ini dimaksudkan supaya negara itu bisa bertahan lama dan mampu mencapai tujuan tertentu yang sudah didambakan. Dalam hal ini (apakah tujuan yang seharusnya diperjaungkan oleh negara ?) saya cenderung utuk setuju terhadap pendapat dari Hobbes. Alasannya adalah karena menurut saya pendapat Hobbes lebih logis daripada pendapat Plato. Hobbes menekankan bahwa tujuan yang harus diperjuangkan oleh negara tidak bisa ditentukan oleh kita selama kita sendiri belum mengerti dan belum bisa menjelaskan tentang “apa itu sifat manusia ?”. Jika kita amati sebenarnya sifat manusia itu tidak pernah puas terhadap segala hal, apapun itu. Ada pepatah Cina yang berbunyi “walaupun batu dapat menjadi emas tapi hati manusia takkan pernah puas”. Dari pepatah ini saya menjadi leih yakin bahwa sifat manusia memang demikian. Contoh yang paling nyata adalah ketika dulu Amerika memiliki tujuan untuk melindungi kepentingan Hak Asasi Manusia, maka sekarang mereka memiliki agenda keinginan baru, yaitu ingin menjadikan negaranya sebagai negara adidaya.

Haruskah Negara Meningkatkan Persamaan?

Persamaan dalam negara (menurut saya) haruslah dilaksanakan, faktor yang melatarbelakangi pilihan saya adalah karena melalui jalan persamaan maka kita bisa mangurangi ketimpangan yang terjadi. Hanya saja persamaan yang saya maksud adalah persamaan secara proporsional, bukan persamaan yang menyamaratakan segala hal. Bapak Wawan Darmawan pernah mengatakan bahwa Syariat Islam bila benar-benar diterapkan maka akan identik dengan konsep sosialis, hanya saja Syariat Islam tidak menyamaratakan segala hal. Dasar pemikiran seperti inilah yang saya gunakan sebagai acuan untuk setuju terhadapa peningkatan “persamaan”.

Haruskah Negara Menjadi Organisasi untuk Memaksimalkan Kekuasaan atau Organisasi untuk Menahan Kekuasaan ini?

Saya rasa negara harus menjadi organisasi yang menahan kekuasaan, sebab dalam artikel review bab sebelumnya pernah dijelaskan bahwa kekuasaan yang berlebihan (power over) dapat menimbulkan kekacauan dalam negara itu sendiri. Ingat! Ketika terjadi peristiwa Boston Tea Party di Amerika, di mana ketika Pemerintah Kolonial Inggris memaksakan pajak yang tinggi kepada warga koloni. Pemaksaan pajak yang tinggi ini bisa dikategorikan sebagai pemaksimalan kekuasaan dan menyebabkan adaanya pemberontakan yang dilakukan oleh warga koloni yang akhirnya menjadi salah satu sebab yang meruntuhkan kekuasaan kolonial Inggris di Amerika, sehingga Amerika menjadi negara yang merdeka. Selain itu melalui cara ini (menahan kekuasaan) maka insyaAllah kedamaian dan kerukunan dapat lebih cepat terealisasi.

Daftar Pustaka:

Budiardjo,Miriam.1988.”Dasar-dasar Ilmu Politik”.PT Gramedia:Jakarta

Duncan, W. Raymond dkk. 2003. World Politics in The 21st Century. New York: Longman.

Heywood, Andrew. 1997. Politics. London: Macmillan.

Jackson, Robert dan Georg Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sterling, Richard W dan William Scott. 1985. PLATO The Republic. New York: W.W. Norton & Company.

Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta.: PT Gramedia Widiasarana.


[1] W. Raymond Duncan, Barbara Jancar-Webster dan Bob Swittky. World Politics in the 21st Century.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: