Deaf.01.what is POLITICS?

1.1
WHAT IS POLITICS

“What is a man but questions? He’s for that—for asking honest, bold questions and humbly waiting for answers. Not asking boldly enough—and giving oneself flattering answers, that is the source of all errors “
(Rachel Van Hagen,in An Introduction to Politics by Roger H. Soltau)

Apakah Politik itu ?

Politik sangat menarik karena ketidaksetujuan orang-orang. Mereka tidak setuju tentang bagaimana mereka mereka harus hidup. Siapa yang harus mendapatkan apa? Bagaimana seharusnya energi dan sumber-sumber lainnya di didistribusikan? Mereka juga tidak setuju tentang bagaimana permasalahan-permasalahan semacam tersebut diselesaikan. Hal inilah yang menyebabkan Aristoteles berpendapat bahwa politik adalah “gurunya ilmu”: yang merupakan aktifitas antara manusia untuk memperbaiki kehidupannya dan menciptakan masyarakat yang baik. Politik adalah sebuah aktivitas sosial. Politik sebuah dialog bukannya monodialog.

Mengartikan Politik

Politik dalam artian yang luas, adalah aktifitas yang dengannya orang membuat, memperbarui, dan merubah peraturan hidup mereka. Politik terkait dengan fenomena konflik dan kooperasi. Pada satu sisi, keberadaan pendapat lawan, keinginan yang berbeda, kebutuhan yang bersaing menjamin ketidaksetujuan tentang peraturan hidup yang mereka gunakan. Di sisi lain, orang-orang menyadari bahwa untuk mempengaruhi peraturan-peraturan tersebut atua meyakinkan bahwa peraturan itu ditegakkan, mereka harus bekerjasamaa dengan orang lain.- menurut pendapat Hannah Andrent tentang definisi political power sebagai “beraksi dalam konser”. Oleh karena itu, inti dari politik sering digambarkan sebagai proses dari penyelesaian konflik, dimana para rival bisa didamaikan satu sama lainnya.Bagaimanapun, politik dalam pengertian yang lebih luas lebih diartikan sebagai pencarian penyelesaian konflik daripada pencapaiannya.

Semua pernyataan untuk megklarifikasikan pengertian politik bertemu dengan dua masalah umum. Yang pertama adalah asosiasi yang banyak digunakan di dalam bahasa keseharian. Lebih buruknya lagi, politik sering dianggap sebagai kata yang “kotor”: Kata tersebut dapat menggambarkan masalah, gangguan dan bahkaan kekerasan pada satu sisi, manipulasi dan kebohongan pada sisi lain. Pada tahun 1775, Samuel Johnson mengartikan politik sebagai ‘tidak lebih daripada rising di dunia’. Sedangkan padaa abad ke-19 Henry Adams menyatakan politik sebagai ‘Sistem Organisasi Hatreds’.

Pengertian kedua, dan kesulitan yang lebih keras lagi, adalah bahkan otoritas yang dihormati tidak mencapai kesetujuan tentang apa subjek tersebut. Politik didefinisikan sebagai dalam pengertian yang berbeda-beda: seperti penggunaan power, penggunaan kekuasaan, pengambilan keputusan bersama, alokasi sumber daya yang terbatas, praktek penipuan dan manipulasi, dan lain-lain. Kebaikan dalam definisi lebih lanjutnya adalah : “ Pembuatan, mempertahankan, dan merubah peraturan-peraturan sosial yang umum”. Bagaimanapun juga, masalah akan timbul saat definisi tidak terselesaikan atau saat definisi tersebut diperbaharui.
Perdebatan tentang ‘apakah politik itu?’ bermakna karena membuka beberapa dari pemikiran intelektual dan ketaksepahaman ideologi pada subjek akademi ini.

Perbedaan pandangan tentang Politik dijabarkan sebagai berikut :
• Politik sebagai seni pemerintahan
• Politik sebagai urusan publik
• Politik sebagai kompromi dan konsensus
• Politik sebagai kekuatan dan distribusi sumber daya

Politik sebagai seni pemerintahan

‘Politik bukanlah ilmu… melainkan sebuah seni’, Chancellor Bismarck mengatakannya kepada pemerintahan Jerman. Seni dalam pemikiran Bismarck ini adalah seni pemerintahan , penggunaan kontrol terhadap masyarakat melalui pembuatan dan penggunaan keputusan bersama. Mungkin inilah definisi politik paling klasik yang dikembangkan dari pengertian aslinya pada masa Yunani Kuno. Kata Politik didapat dari kata polis yang secara harfiah berarti negara kota. Pandangan ini sangat jelas buktinya dalam penggunaannya dalam keseharian: orang dikatakan ‘berpolitik’ saat mereka bekerja untuk umum atau melihat untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini, dugaan politik sebagai ‘ apa yang mempengaruhi negara’ adalah pandangan tradisional dari disiplin ilmu tersebut, refleksi dalam kecenderungan untuk pembelajaran akademik untuk fokus pada personal dan perangkat pemerintah. Untuk mempelajari politik merupakan inti untuk mempelajari pemerintah, atau lebih luas lagi, untuk mempelajari penggunaan kewenangan. Pandangan ini merupakan lanjutan dari tulisan David Easton (1979,1981) yang mengartikan politik sebagai ‘authoritative allocation of values’ (alokasi otoritas nilai-nilai). Maksud David Easton, politik mencakup bermacam-macam proses melalui respon pemerintah untuk menekan suatu komunitas yang lebih besar, secara khusus dengan mengalokasikan keuntunga, hadiah atau hukuman. Nilai-nilai kewenangan adalah yang diterima komunitas secara luas, dan dipertimbangkan mengikat jumlah dari masyarakat. Pada pandangan ini, politik diasosiasikan dengan polis. Maka dari itu, dengan keputusan otoritas yang formal membuat sebuah rencana atau aksi-aksi untuk sebuah komunitas.

Hubungan antara politik dan masalah-masalah pemerintah juga bisa menjelaskan kenapa imej uang buruk selalu menyertai politik. Ini karena didalam pemikiran masyarakat kini, politik sangat dekat berhubungan dengan aktivitas politikus. Lebih buruknya, politikus-politikus sering terlihat sebagai orang munafik yang mencari kekuatan untuk mereka sendiri tapi bersembunyi dibalik urusan-urusan umum. Lord Actons berkata “power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely” (kekuatan berhubungan dengan korupsi dan kekuatan mutlak pasti di korupsi). Akhirnya, banyak orang-orang yang memandang politik disudut pandang itu dan tidak diragukan lagi bahwa aktivitas politik akan selalu ada di kehidupan sosial. Tugas yang ada sekarang bukanlah menghilangkan keberadaan politikus dan mengakhiri politik, tapi memastikan bahwa kinerja politik masih didalam wadahnya dan tidak ada penyalahgunaan kekuatan pemerintah.

Politik sebagai urusan publik

Konsep yang lebih luas di bidang politik bergerak dari bidang pemerintahan yang terbatas kepaada apa yang disebut dengan ‘kehidupan politik’ atau ‘urusan publik’. Perbedaan antara politik dan non-politik sama dengan pembagian antara bidang kehidupan publik dan bidang kehidupan pribadi. Aristoteles dalam bukunya yaang berjudul Politics mengatakan bahwa ‘man is by nature a political animal’ (Manusia secara alamiah adalah hewan yang berpolitik). Yang Aristoteles maksudkan adalah hanya dalam masyarakat yang berpolitik manusia dapat mewujudkan kehidupan yang baik. Dari sudut pandang ini, kemudian politik menjadi sebuah aktifitas yang beradab, bertujuan untuk menciptakan ‘just community’. Perbedaan yang bersifat tradisional antara bidang umum dan pribadi sesuai dengan pembagian antara negara dengan masyarakat. Institusi-institusi dari sebuah negara bisa disebut sebagai ‘publik’ dimana mereka bertanggung jawab atas pengorganisasian kehidupan masyarakan dengan benar. Politik bukanlah, tidak harus, melanggar urusan dan institusi pribadi.

Sudut pandang politik sebagai aktivitas publik bisa dilihat dari sisi negatif dan positi. Dalam sebuah tradisi, kembali lagi ke Aristoteles, politik telah terlihat sebagai suatu yang mulia dan kegiatan rakyat yang senantiasa mendapat penerangan-penerangan dikarenakan karakter ‘publik’. Hal ini menunjang pendapat Hannah Andrent dalam bukunya The Human Condition (1958) bahwa politik adalah suatu bentuk yang sangat penting bagi aktifitas manusia karena interaksi yang berada di antaranya berpengaruh diantaranya bebas dan sama pada masyarakat. Teori-teori seperti J.J. Rosseau dan John Stuart Mill yang menggambarkan partisipasi politik sangat baik dalam pengertiannya sendiri terdapat dalam sebuah gambaran dengan kemiripan penyelesaian. Rosseau berpendapat bahwa hanya dengan cara langsung dan terus menerus dari semua masyarakat dalam kehidupan berpolitik sehingga akan ada yang dikatakan dengan ‘keputusan umum’. Sebaliknya, politik sebagai aktivitas publik juga bisa digambarkan sebagai bentuk dari interferensi yang tidak diinginkan.

Politik Sebagai Kompromi dan Konsensus

Politik secara spesifik dilihat sebagai salah satu cara untuk memecahkan konflik : yaitu dengan kompromi, konsiliasi, dan negosiasi, daripada dengan melalui kekerasan dan perlawanan terbuka. Ini mengapa politik digambarakan sebagai ‘the art of possible.’Aristoles juga berkata bahwa ‘polity’ adalah sistem pemerintahan yang ideal, seperti yang digabungkan dalam hal ini menggabungkan antaraa aristokratik dan demokratik. Dalam sudur pandang Bernard Crick, kunci menuju politik adalah menghilangkan kekuatan itu sendiri. Menerima bahwa konflik tidak bisa dihilangkan, Crick berargumen bahwa ketika sebuah kumpulan masyarakat dan tertarik akan kekuatan, mereka harus berkonsialisasi, mereka tidak bisa berebutan. Dalam sudut pandang ini politik mempunyai pengertian yang positif.

Politik Sebagai Power

Dalam definisi ini, politik diartikan lebih luas dan lebih radikal. Adrian Leftwich memproklamirkan politik sebagai inti dari aktivitas sosial bersama, fomal dan informal, umum dan pribadi, disemua kumpulan manusia, institusi dan masyarakat. Dalam hal ini, politik mencakup kesemua tingkat interaksi masyarakat, hal ini bisa ditemukan didalam keluarga, , kumpulan antara teman, bangsa dan mungkin juga dunia. Pada pengertian yang paling luas, politik memperhatikan masalah produksi, distribusi, dan penggunaan sumber daya untuk eksistensi sosial. Hal ini diangkat oleh Harold Laswell dalam bukunya yang berjudul Politics: Siapa mendapatkan apa, kapan, bagaimana? (1936). Dari sudut pandang ini politik adalah tentang keragaman dan konflik, tetapi esensinya adalah kelangkaan : Sebagai contoh mudah, ketika keinginan dan kebutuhan manusia takterbatas, alat pemuas kebutuhannya selalu terbatas.

Para feminis moderen memproklamirkan slogan ‘ The personal is the political’ yang menyerang pendapat bahwa politik adalah sektor publik, bukan pribadi. Hal ini diungkapkan oleh Kate Millet dalam Sexual Politics (1969:23), dimana ia membagi politik sebagai kekuatan tersusun dengan hubungan, susunan rencana untuk satu kelompok orang di kendalikan oleh kelompok yang lainnya.

Mempelajari Politik

Ketidaksetujuan tentang aktifitas politik sering dikaitkan dengan kontroversi politik sebagai disiplin akademis. Politik dilihat sebagai cabang dari filosofi, sejarah ataupun hukum.

Tradisi Filosofis

Asal dari analisis politik bermula dari masa Yunani kuno dan sebuah tradisi biasanya merujuk kepada ‘filosofi politik’. Plato dan Aristoteles biasanya diidentifikasi sebagai sumber pemikir. Ini termasuk sebuah keasyikan yang beresensi kepada layak, dan dapat di pertanyakan, mencerminkan ke sebuah pemikiran dengan apakah ‘harus’, ‘wajib’ dibawa dengan ini. Pemikiran-pemikiran mereka dapat tercermin dalam tulisan-tulisan pada teori-teori abad pertengahan, seperti seperti Augustine (354-430) dan Aquinas (1225-74).

Permasalahan utama yang diangkat oleh Plato, sebagai contohnya, mendeskripsikan keaadaan masyarakat yang ideal, dalam pandangannya mengambil bentuk kediktatoran yang didominasi oleh kelas-kelas bangsawan. Tulisan-tulisan tersebut dibentuk dengan dasar pendekatan ‘tradisional’ terhadap politik. Ini termasuk studi tentang analisis-analisis dari ide dan doktrin yang menjadi pemikiran inti dari politik. Walaupun analisis tersebut menghasilkan kritikan dan ketelitian, hal ini tidak bisa objektif dikaji lewat ilmiah.

Tradisi Empiris

Meskipun lebih susah dilihat daripada teori-teori normatif, sebuah deskriptif atau tradisi empiris dapat ditelusuri kepada masa-masa awal pemikiran politik. Hal ini dapat terlihat pada klasifikasi Aristoteles tentang konstitusi , dalam perhitungan realistis terhadap kenegaraan oleh Machiavelli , dan dalam teori sosiologi mengenai pemerintah dan hukum oleh Montesquieu. Analisis politik yang deskriptif mendapaatkan filosofinya dari dari doktrin yang empiris, yang telah menyebar dari abad ketujuh belas melalui kerjakeras John Locke dan David Hume. Diktrin yang empiris meyakini bahwa pengalaman adalah satu-satunya dasar dari ilmu pengetahuan, dan seluruh hipotesis dan teori harus diseleksi melalui proses observasi.Auguste Comte berbicara tentang positivisasi. Satu ilmu telah merasa menjadi satu-satunya ilmu yang secara nyata mendekati kebenaran, menekan untuk mengembangkan politik menjadi yang tidak ada tandingannya.

Tradisi yang Ilmiah

Teori awal yang mencoba mendeskripsikan politik dalam pengertian yang ilmiah adalah teori dari Karl Marx. Menggunakan konsepsi materialis yang disebutnya sejarah, Marx berusaha untuk membuka kekuatan yang mengendalikan pembangunan yang bersejarah. Inilah yang membuatnya mampu membuat prediksi masa depan berdasarkan hukum yang memiliki status yang sama sebagai bukti hukum sebagai ilmu alam. Hal terbaru untuk analisis yang ilmiah juga didapat pada abad ketujuhbelas oleh analisa tendensi. Pada tahun 1870-an, ‘ilmu politik’ diperkenalkan kepadaa universitas-universitas di Oxford, Paris dan Kolumbia, dan pada tahun 1906, American Political Science Review diterbitkan. Bagaimanapun, entusiasme tehadap politik sebagai ilmu memuncak pada tahun 1950-an dan 1960-an, paling kuat di Amerika Serikat, sebagai bentuk dari analisa politik yang muncul pada behaviouralisme.

Untuk pertama kalinya, hal ini memberikan politik kepercayaan penuh melalui surat kepercayaan, karena ini membuktikan apa yang sebelumnya dilarang; sikap objektif dan jumlah data melawan hipotesis bisa dibuktikan. David Easton memproklamirkan bahwa politik bisa mengadopsi metodologi dari ilmu alam, dan hal ini meningkatkan sebuah pengembangan belajar di area yang cocok untuk menerapkan metode pengembangan, seperti sikap memilih, berlegislasi dan sikap politik dan penglobian.

Pembangunan-pembangunan terkini

Di antara pendekatan teoritis politik yang disebut pendekatan teori politik formal , lebioh dikenal sebagai ‘ekonomi politik’, ‘teori pilihan publik’ dan teori pemilihan rasional’. Pendekatan ini menganalisis kepada contoh-contoh teori ekonomi dalam membangun contoh berdasarkan peraturan, biasanya tentang ketertarikan pada tingkah laku pada individu-individu yang terlibat. Pendekatan ini menyebakan efek pada analisis politik dalam bentuk institusi teori pemilihan publik. Pendekatan ini juga telah dilakukan dalam bentuk game theory, yang telah terbentuk lebih dari sektor matematis daripada sektor ekonomis . Contoh yang terkenal pada game theory adalah dilema narapidana.

Bagaimanapun, pendekatan dengan pilihan rasional telah diterima secara universal. Ketika para pendukung mengklaim bahwa hal ini sekaligus memperkenalkan secara luas kekerasan kedalam diskusi politik , kritik menjadi dasas dari asumsi-asumsi tersebut. Teori Kritik yang dikemukakan oleh Marxism adalah memperpanjang dugaan dari kritik kepada masyarakat dengan menjelaskan besarnya jarak yang saling bergantungan. Akhirya, secara umum tapi hal yang penting bahwa filosofi politik dan ilmu politik sekarang kurang dilihat sebagai mode penyelidikan yang nyata, dan masih sebagai rival. Termasuk juga, hal tersebut telah diterima sebagai cara yang mudah untuk menjauhkan pengetahuan politik.

Dilema Narapidana

Dua orang pelaku kriminal berada pada sel yang terpisah, berada dalam keadaan antara mengaku atau tidak satu sama lain. Jika salah satu dari mereka mengaku, tetapi memberi bukti untuk menghukum yang lain ia akan dilepaskan tanpa dakwaan, sementara temannya akan menanggung seluruh kesalahan dan dipenjara selama sepuluh tahun. Jika keduanya mengaku, mereka akan dipenjara selama enam tahun. Jika keduanya tidak mengaku, mereka hanya akan dianggap melakukan kriminalitas yang ringan dan dipenjara selama setahun.
Dalam pandangan konfrontasi dilema ini, diperkirakan kedua pelaku kriminal tersebut akan mengaku, takut jika mereka tidak mengaku akan mendapatkan hukuman terberat. Ironisnya, permainan ini menunjukkan bahwa sikap yang rasional dapat menghasilkan pada hasil yang terbaik (dapat menyebabkan total dua belas tahun di penjara). Pada efeknya, mereka dihukum untuk kesalahan bekerjasama atau saling mempercayai satu sama lain. Bagaimanapun, permainan ini terus berulang, dimungkinkan untuk para pelaku kriminal tersebut mengerti bahwa self-interest didapatkan dari kooperasi, yang akan mendorong mereka untuk menolak mengaku.

Dapatkah Pembelajaran Politik Menjadi Ilmiah?

Meskipun telah diterima secara luas bahwa pembelajaran politik harus ilmiah dalam pemikiran yang luas menjadi teliti dan kritis, beberapa telah meyakinkan bahwa hal itu dapat menjadi ilmiah dalam pemikiran yang lebih ketat. Hal ini telah dicapai oleh penganut Marxis dan positifis sosial dan menjadi ‘revolusi sikap’ pada tahun 1950-an. Bagaimanapun, usaha untuk mengkonstruksikan politik sebagai ilmu harus menghadapi tiga kesulitan-kesulitan:
Pertama, permasalahan data. Kita tidak dapat masuk ‘ke dalam’ manusia, atau melakukan eksperimen yang sama secara berulang-ulang . Tanpa data, kita tidak memiliki hal yang dapat dijadikan sandaran untuk hipotesis kita.
Kedua, ada berbagai kesulitan yang berasal dari keberadaan dari tersembunyi nilai-nilai. Gagasan di mana model dan teori dari politik adalah seluruhnya menghargai cuma-cuma sukar untuk mendukung ketika diuji lekat. Fakta dan nilai-nilai menjadi sangat lekat terjalin sehingga sering mustahil menghadirkannya terpisah.
Ketiga, ada mitos tentang kenetralan dalam ilmu-ilmu sosial. Bagaimanpun politik diartikan, ia menghasilkan pertanyaan berkaitan dengan struktur dan fungsi masyarakat dimana kita hidup dan tumbuh.

Konsep, Contoh dan Teori

Konsep, contoh dan teori adalah alat-alat dari analisis politik. Konsep adalah ide umum tentang sesuatu yang biasanya dilukiskan dalam satu kata atau frase pendek.Konsep adalah perangkat dengan dimana kita berpikir, mengkritik, berargumen, menjelaskan dan menganalisis. Hanya merasa dunia luar tidak ada didalam itu sendiri yang memberikan pengetahuan tentang hal tersebut. Supaya bisa mengerti tentang dunia kita harus dalam pengertiannya sendiri, menentukan artinya sendiri, dan ini lah yang dilakukan melalui konsep.

Ada kerawanan dalam konsep ‘demokrasi’, ‘hak asasi manusia’, dan ‘kapitalisme’. Max Weber yang mencoba menyelesaikan masalah ini dengan mengenali konsep tertentu sebagai jenis ideal. Pandangan ini memperlihatkan bahwa konsep yang digunakan dibangun dengan dasar tertentu atau pusat fenomena yang dipermasalahkan. Konsep revolusi ini dapat dihormati sebagai suatu jenis ideal dalam hal ini, yang memperhatikan proses yang penting dalam perubahan politik.
Contoh dan model memiliki pengertian yang lebih luas daripada konsep. Sebuah contoh biasanya dianggap sebagai hal yang mewakilkan sesuatu, biasanya dalam skala yang lebih kecil. Bagaimanapun, contoh yang konseptual tidak perlu menyerupai objek.
Istilah teori dan contoh sering kali tertukar dalam politik . Namun,teori berupa penjelasan yang sistematis dari data yang empiris. Sebaliknya, contoh adalah alat yang semata-mata digunakan untuk menerangkan, lebih seperti hipotesis yang harus dibuktikan.
Ada pemikiran bahwa dengan alat-alat analisis, seperti contoh dan teori mikro membentuk teori-teori makro.Teori- teori ini bekerja seperti menurut Thomas Kuhn dalam The Structures of Scientific Revolutions disebut paradigma yang terkait prinsip, doktrin dan teori yang membentukpenyelidikan intelektual.
Menurut Kuhn, ilmu-ilmu alam didominasi dengan paradigma yang sama, ilmu berkembang melalui berbagai seri revolusi dimana paradigma yang lama tergantikan dengan paradigma yang baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: