Deaf.03. Teori-teori politik

March 22, 2009


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:595.35pt 842.0pt; margin:85.05pt 70.9pt 70.9pt 85.05pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:64256810; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1982532476 -207090672 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:normal;} @list l1 {mso-list-id:134949750; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:637845112 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-.25in;} @list l2 {mso-list-id:157577700; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:813069938 67698697 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l3 {mso-list-id:389812732; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:602559320 67698689 67698711 -607098450 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-text:”%2\)”; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l3:level3 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-text:”%3\)”; mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l4 {mso-list-id:558982923; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-622832486 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l5 {mso-list-id:1231037328; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-203008084 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l5:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l6 {mso-list-id:1820416805; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1947825944 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l7 {mso-list-id:1874271432; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:84048304 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l7:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l8 {mso-list-id:1918898977; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:187577554 -420473096 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l8:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-weight:normal;} @list l9 {mso-list-id:2098790755; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1136310316 67698689 67698705 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l9:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l9:level2 {mso-level-text:”%2\)”; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
Deaf.03.TEORI POLITIK

Memperhatikan Etika Dasar Politik

Teori politik adalah bagian dari ilmu politik, teori politik terfokus pada hal-hal yang bersifat pertanyaan normatif dan mengenai etika politik. Pada bagian ini, kita akan mendalami beberapa isu-isu normatif yang telah lama ada yang telah mengacaukan teori politik selama ini. Tujuan kita akan dibagi menjadi dua: untuk memahami sejarah dan pembelajaran dari teks mengenai teori yang kita pelajari, tetapi juga untuk pembelajaran mereka supaya dari latar belakang sejarahnya sendiri dan mengamati apakah pembelajaran yang seperti itu masih berhubungan terhadap kita untuk berjuang dengan permasalahan politik, sosial, dan ekonomi pada abad ke-21 ini.

Mengamati Teori Politik:

“Kiasan Sebuah Gua” dari Plato

Pada zaman Yunani kuno, Plato adalah salah satu filsuf terkemuka. Keluarganya termasuk pemimpin politik terkemuka, dan dia dihormati di Athena, pertama karena perjanjian yang dibuatnya selama Athena berperang melawan Sparta dan kedua karena sumbangannya di bidang kebudayaan dan kepandaiannya. Plato memiliki guru yang bernama Socrates (470?-399 SM), mereka hidup pada masa perang Pelloponesia (405 SM) antara Sparta dan Athena, yang akhirnya dimenangkan oleh Sparta.

Plato juga memiliki suatu akademi pengajaran, yang mengajari murid-muridnya sekitar tahun 387? SM dan 529 M. Akademi ini juga mengajar Aristoteles. Plato memiliki guru yang bernama Socrates, Socrates inilah yang memiliki kontribusi besar dalam perjalanan filosofi Plato. Plato menjadikan Sicrates sebagai figur dambaannya, sekaligus banyak mempengaruhi karya-karyanya.

Dalam karangannya yang berjudul The Republic, Plato menghadirkan suatu kiasan yang berguna untuk menggambarkan kesulitan dan kritikan yang diterima pada analisa filosofis. Kiasan ini (Allegory of The Cave) mungkin terkesan sebagai perbandingan teori politik itu sendiri. Sebagaimana halnya perbandingan dan kiasaaan, kejelasannya tidak terletak pada kelengkapan ceritanya, tapi lebih terletak kepada teka-teki filosofis yang terdapat pada kelengkapan ceritanya. Singkatnya, Plato memiliki karakter Socrates yang memulai kiasan sebuah gua dengan bercerita kepada kita bahwa kiasan ini diharapkan untuk bisa menjelaskan proses pencapaian suatu pengertian dan pencerahan (penyadaran) mengenai teori politik.

Apakah keadaan manusia cenderung kepada kesadaran atau pengabaian? Socrates menekankan bahwa untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus membayangkan diri kita hidup dalam gua. Sebagai penghuni gua, kita tidak menyadari tentang aspek yang paling mendasar pada lingkungan kita. Misalnya, kita tidak tahu bahwa sebenarnya kita berada dalam gua, karena kita berpikiran bahwa di sekeliling kita adalah keseluruhan alam semesta. Kita tidak berpikir bahwa di atas kita terdapat lapisan tanah, langit dan matahari karena secara otomatis kita mempercayai semua yang kita lihat adalah semua hal yang ada (nyata). Socrates menjelaskan pandangan kita di dalam gua sangat terbatas. Gua ini sangat gelap, dan sangat sulit untuk mengetahui suatu gambaran ataupun bentuk. Bagaimanapun karena kita telah terbiasa hidup dalam gua, kita tidak merasakan bahwa gua ini gelap dan buram sekali, bagi kita yang di dalam gua semuanya terlihat biasa-biasa saja.

Kiasan ini cukup bagi kita untuk mengilustrasikan kepada kita supaya kita bisa memiliki analisa yang tajam dan pemikiran yang kritis mengenai politik. Berpikir kritis memang tidak mudah dan terkadang mengganggu dan sering pula menghasilkan kesimpulan yang diterima oleh masyarakat kita “tidak lebih nyata” daripada bayangan di dinding. Sebagai hasilnya teori politik telah menghasilkan pemikiran yang sering kali kontroversial dan terkadang mendapat tanggapan yang keras dari lawan. Bagaimanapun suatu teori membutuhkan pertanyaan-pertanyaan tentang isu-isu normatif politik, ibaratnya menawarkan jalan kecil menuju luar gua. Teori-teori itu memasuki wilayah kontroversial, sebagaimana yang kita lihat pada bagian berikut.

Beberapa Pertanyaan Mendasar dalam Politik

Tujuan Apa yang Seharusnya Diperjuangkan Oleh Negara?

Pertanyaan tadi emrupakan salhasatu persoalan dalam teori politik, kita bisa mengkaji ajaran dari Plato dan Hobbes untuk mendapatkandua pendekatan yang berbeda untuk menghadapi persoalan ini. Plato (dalam The Republic) menyarankan bahwa tujuan negara adalah menegakkan keadilan dan bentuk yang terbaik adalh yang mengutamakan keadilan. Keadilan merupakan “sifat yang mengikuti” (following nature). Lebih jauh lagi, Plato menjelaskan bahwa ada tiga golongan sifat pada mayarakat. Beberapa orang secara alami akanmenginginkan menajdi buruih dan kaum oekerja; lainnya secara alami ingin melibatkan diri menjadi sukarelawan (pembantu) atau pemimpin militer; dan sisanya secara alami ingin menjadi pekerja pelayan publik dan pembuat keputusan dan oleh karena itu memasuki golongan penguasa. Plato mempercayai bahwa para filsuf seeprti dirinya secara alami cocok untuk menjadi golongan penguasa, lebih jauh lagi hampir keseluruhan filsuf mengikuti kehidupan dari alasan yang natinya mereka akan mencari kebenarannya sendiri.

Plato menjelaskan ketidakadilan sebagai perilkau yang menyimpang terhadap hati nurani. Oleh karena itu jika seseorang sudah cocok menjadi buruh tapi ingin menjadi penguasa maka hal ini tak bisa dibenarkan. Perlu dicatat teori dari Plato mengecam adanya usaha untuk kemajuan, persaingan untuk menjadi panutan yang terbaik di segala bidang baik secara fisik maupun mental.

Beberapa pembaca telah terkejut dengan adanya pembagian tiga kelas sosial dari Plato. Plato juga membuat sebagian orang merasa putus asa dengan adanya tingakatan (hierachical) dan authoritarian, Plato tidak hanya menyerang demokrasi tapi juga menyebut para komentator sebagai orang yang egois. Plato memandang bahwa para filsuf (seperti dirinya) sebagai golongan yang paling cocok sebagai pembuat keputusan suatu negara.

Thomas Hobbes hidup pada abad ke-17, Hobbes merupakan aktor teori politik di Inggris. Dia belajar di Oxford, tinggal ebentar di Paris dan bertemu filsuf Rene Descartes, lalu bepergian ke Italia dan bertemu Galileo, dan menjadi pendamping Charles II. John Aubrey menganggap kehidupan Hobbes begitu suram, Hobbes hidup dengan banyak gosip yang memojokkan dan Hobbes menjadi takut untuk tidur sendiri di rumahnya.

Dalam karyanya Leviathan, Hobbes mengatakan bahwa ia tidak ada perhatian terhadap para filsuf zaman dahulu untuk mengerti tentang politik. Apa tujuan dari sebuah negara? Menurut Hobbes, kita tidak akan tahu jawaban itu sampai kita mnegerti terlebih dahulu jawaban dari pertanyaan lain seperti: Apa itu sifat manusia? Hobbes menyimpulkan bahwa untuk mengerti bagaimana kehidupan manusia, kita harus melihat jiwa kita masing-masing, jika sedah melakukannya maka kita akank melihat bahwa dalam jiwa ada nafsu, rindu, ketakutan, dorongan bertindak agresif dan naluri untuk mendapat kekuasaan. Bagaimanapun kita akan menemukan unsur-unsur rasionalitas.

Menurut Hobbes, kekuasaan (power) bisa berarti negara. Tujuan dari negara adalah menyelenggarakan keamanan melalui pencegahan dan karenanya mari mendukung pertahanan kemanusiaan. Pendapat ini berbeda denga Plato, Hobbes menolak apa yang ia pikirkan menjadi terlalu tinggi dan hanya impian semu dalam pencapaian sempurna mengenai negara.

Haruskah Negara Meningkatkan Persamaan?

Para pelaku teori politik tidak menyetujui mengenai adanya persamaan dan adanya isu-isu lain yang berhubungan dengannya. Tidak ada kesepakatan mengenai bagaimana persamaan harus didefinisikan atau pertanyaan apakah persamaan harus ditingkatkan melalui kebijakan pemerintah. Untuk mendapat pengertian tentang bagaimana ketidaksepakatan telah dipisah oleh teori politik selama seabad ini, mari kita lihat pada pengajaran dari Aristotle, Thomas Jefferson, Tecumseh, Chico Mendes, Friedich Nietzsche dan Kurt Vonnegut.

Aristoteles adalah murid dari Plato, ia juga berasal dari keluarga tak terpandang. Aristotle merupakan guru Alexander agung. Penagmatan sdari Aristotle memberi kita kesempatan untuk berpikir mengenai apa yang terdapat dalam “persamaan”, ia bependapat bahwa hal ini bisa berarti bnayak hal. Dia juga menyarankan bahwa persamaan yang paling baik adalah yang paling baik melayani kehidupan manusia, bilamana persamaan dimengerti untuk diartikan sebagai pembagian keuntungan. Sehingga persamaan harus ditingkatkan oleh negara.

Aristotle mengidentifikasi adanya enam bentuk pemerintahan, yang mana tiap bentuknya bertindak terdiri dari dua unsur: siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai. Berikut ini adalah pembagiannya:

1. Monarki : Pemerintahan oleh satu orang demi tujuan bersama

2. Aristokrasi : Pemerintahan oleh sedikit orang demi tujuan bersama

3. Polity : Pemerintahan oleh banyak orang demi tujuan bersama

4. Tirani : Pemerintahan oleh satu orang demi tujuan yang memerintah

5. Oligarki : Pemerintahan oleh sedikit orang demi tujuan yang memerintah

6. Demokrasi : Pemerintahan oleh banyak orang demi tujuan yang memerintah

Menurut Aristotle, monarki, aristokrasi, dan polity adalah pemerintahan yang tepat karena tiap-tiap bentuknya bertindak demi semua tujuan sebagai pertimbangan yang berguna. Tidak ada tujuan yang luput dari pertimbangan. Dalam tiga bentuk pemertintahan ini, tidak peduli berapa banyak yang dilibatkan dalam proses pemerintahan, sebab semua diatur oleh negara. Aristotle menganggap Tirani, Olgarki, dan Demokrasi sebagai bentu pemerintahan yang tidak tepat karena tujuan-tujuannya tidak dipertimbangkan dengan persamaan.

Thomas Jefferson (1743-1826) memberikan suatu pandangan yang menyangkut persamaan, Jefferson memiliki banyak kontribusi terhadap politi di USA. Pengalamannya juga lumayan banyak, dalam badan Kolonial Pembuat Undang-Undang di Virginia, adalah sebagai delegasi kepala Kongres Kontinental; Gubernur Virginia; bertindak sebagai Sekretaris Negara yang pertama; dan terpilih sebagai Presiden USA yang ketiga. Jefferson juga merupakan penyusun utama naskah kemerdekaan, di mana pada tahun 1776 membuat argumen untuk kemerdekaan Amerika. Deklarasi yang dilakukan oleh Jefferson merupakan bentuk dari persamaan (lebih tepatnya persamaan mengenai hak alamiah).

Tecumse lahir di Ohio, ia merupakan ahli teori shawn yang pada awal abad 19 menolak adanya persamaan hak natural dengan suatu penekanan atas hak milik. Sebagai aktivis dan pemikir politik, ia berpendapat bahwa tanah leluhur diberikan orang kulit putih melalui perjanjian yang dirundingkan dengan para pemimpin (kepala suku) Amerika asli atas dasar doktrin persamaan natural. Secara khusus, Tecumseh berpandangan bahwa suatu kekuatan rohani menempatkan orang Amerika asli pada negeri mereka dan bahwa masing-masing anggota masyarakat mempunyai persamaan dan hak natural di tanah itu.

Persamaan konsep antara Jefferson dan Tecumseh adalah mengenai hak sebagai atribut orang-orang.

Chico Mendez (1944-!988) mengeluarkan pemikirannya tentang persamaan (equality of participation) melalui aktivitas dan tulisan. Mendez sebenarnya adalah seorang yang berprofesi sebagai penyadap getah karet dan aktivis organisasi di Brazil.

Mendez dan koleganya (sesama penyadap getah karet) berpendapat bahwa tak seorangpun mengenal hutan sebaik atau sedetail orang-orang yang tinggal di dalamnya. Mereka dengan bantuan dari Kelompok Lingkungan Internasional mulai tertarik untuk mencegah penebangan hutan secara liar oleh pengembang industri dan pengusaha lain. Sumber daya di dalam area akan disadap, tetapi area adalah integritas ekologis yang akan dipelihara.

Friedrich Nietzsche (1844-1900) barangkali merupakan merupakan salah satu tokoh teori politik paling kontroversial pada masa modern. Nietzsche berpendapat bahwa persamaan (sebagai suatu konsep) sebenarnya berakar dari tipe moral yang jelas. Dia mengatakan bahwa moral ini sebagai moral budak, yang diartikan sebagai moral dari orang-orang lemah dan karena itu dibuat untuk melayani kepentingan orang-orang lemah. Moral budak (slave morality) berkebalikan dengan moral dari ahli (master morality), kode etik yang melayani pihak yang kuat dan menghormati atribut yang kuat, yang menaklukkan, mendominasi dan yang memutuskan. Moral budak menganggap “buruk” segala sesuatu yang disebut oleh moral ahli sebagai hal yang “baik”. Moral ahli mengatakan baik mengenai apa yang dianggap oleh moral budak sebagai suatu kebaikan.

Persamaan merupakan bagian dari moral budak, pihak yang lemah menganggap persamaan sebagai suatu “kebaikan” dan “beradab” karena mereka ingin merusak posisi terhormat dari pihak yang berkuasa. Persamaan, sebagaimana pandangam Nietzsche, merupakan desas-desus bagi masyarakat yang ingin merusak semuanya yang telah berhasil. Demokrasi menuerut pandangan N merupakan contoh dari moralitas budak, jika demokrasi tidak mengajarkan untuk mengistimewakan sesuatu di atas yang lain. Apakah yang melatar belakangi adanya persamaan? Jika N benar, kebencian ada di balik itu semua, yang mengarahkan untuk menghukum siapa saja yang unggul, atau yang telah mencapai puncak dan yang telah mencapai posisi yang kuat. Mereka inilah yang dipojokkkan oleh orang-orang bermoral budak. Orang-orang dengan moralitas budak menganggap “kebaikan” itu sebagai suatu keadaan yang terjadi jika semuanya menjadi dalam satu tingkatan, karena pada kondisi seperti inilah terdapat suatu persamaan.

Kaum Kristen menurut N, adalah sebuah contoh dari sebuah moralitas budak. Dalam ajaran pengampunan, kemanusiaan, dan kelembutan. N memperkenalkan “konsep kebencian” untuk membuat argumen bahwa dalam moralitas budak tersembunyi rasa dendam untuk mengalahkan kaum kuat (karena mereka dendam dengan kaum kuat) dengan cara mengatakan sesuatu yang “buruk” terhadap hal-hal yang membuat penguasa semakin menjadi kuat.

Pada tahun 1961 Kurt Vonnegut (penulis Amerika) mempublikasikan sebuah cerita pendek yang berjudul Harrison Bergeron, yang mana karakter-karakter dan latar-latarnya menawarkan ruang praktek fiksi untuk menmguji konsep dari N. Ceritaini berlatar belakang Amerika pada tahun 2084, dimana hukum-hukum telah membuata setiap orang sepenuhnya menjadi sama. Jika salah seorang mencari ketidaksamaan dengan membandingkan terhadap orang lain maka ketidaksamaan itu akan menghilang dengan cepat.

Pada cerita Vonnegut kita bisa mengamati bagaimana pemikiran seorang Nietzsche. Pertama, mengenai persamaan menjadi dasar untuk penyerangn terhadpa mereka semua yang ingin menggunakan kemampuan mereka untuk menjadi kuat dan berpengaruh. Kedua, persamaan adalah hal yang tak bisa dihindari, sebagimana dengan kedudukan melayani diri sendiri. N pernah berkata bahwa persamaan bukanlah konsep yang netral, tetapi konsep yang membahayakan yang satu dan menguntungkan yang lain.

Kita bisa mengamati cerita dari Vonnegut seperti halnya kita bercerita tentang beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan dasar dari persamaan normatif, yaitu:

  • Mungkinkah menjadikan semua sama tanpa merugikan orang lain ?
  • Haruskah seorang individu menjadi sama dalam segala hal ?
  • Haruskah sebuah hukum mengikuti secara terus-menerus bahwa hukum menyediakan suatu persamaan dari sebuah kemampuan daripada persamaan dari kesempatan ?
  • Bisakah persamaan menjadi suatu dasar dari penindasan ?

Haruskah Negara Menjadi Organisasi untuk Memaksimalkan Kekuasaan atau Organisasi untuk Menahan Kekuasaan ini?

Machiavelli (1469-1527) berpendapat bahwa sebuah negara tidak harus mengikuti keinginan warga negaranya untuk tumbuh menjadi kuat yang nantinya bisa menyerang negara itu sendiri. Oleh karenanya Machiavelli membenarkan adanya tindakan negara untuk melemahkan golongan ekonomi untuk mencegah mereka menjadi lawan yang kuat terhadap pengelola negara, dan dia juga menyarankan supaya negara tetap menjaga warga negaranya dalam keadaan ketakutan. Machiavelli memutuskan bahwa ketakutan merupakan kekuatan utama untuk berkuasa. Alasannya adalah masyarakat yang membenci negara mungkin akan berkembang melawan negaranya sendiri dan masyarakat yang mencintai negara tidak bisa dikendalikan (mereka mencintai ataupu tidak ebrdasarkan keinginan mereka, Machiavelli mengatakan tidak mungkin membuat seseorang mencintai negara), namun masyarakat yang takut kepada negara perilakunya bisa diatur oleh negara. Untuk alasan inilah Machiavelli berargumen bahwa negara harus memaksimalkan dan mengamankan kekuasaan mereka jika mereka ingin berkuasa melalui ancaman.

Lain halnya dengan Madison (1751-1836) yang melihat negara dari perspektif yang berbeda. Madison berpendapat negara seharusnya secara intens membatasi kekuatan separatis dengan melakukan pengecekan dan penyeimbangan, ia pun dalam tulisannya menyatakan bahwa legislatif, eksekutif, dan yudikatif harus dipisahkan dalam lembaga yang berbeda. Sebab jika dipersatukan dalam satu lembaga bisa berbahaya, sangat berpotensi menjadi suat7u tirani. Madison percaya bahwa karena hal yang seharusnya dilakukan di atas maka negara dapat membuat hukum dan menggunakannya. Pemisahan kekuasaan ini diatur oleh sistem “check and balance” yang salah satunya memiliki kemampuan untuk menahan aktivitas yang lain. Hal ini memiliki efek membatasi kekuatan negara. Oleh karena itu pada dasarnya kekuatan-kekuatan ini saling melemahkan.

Negara versi Madison diatur untuk “mematikan” negara versi Machiavelli yang menggunakan kekuasaan dalam bentuk kekejaman terhadap rakyat. Namun kedua pemikiran ini (Machaivelli dan Madison) sama-sama menghasilkan pertanyaan besar tentang bagaimana etika untuk memerintah dan memimpin. Dan yang lebih penting lagi kegiatan ini membuat kita bertanya akan mana yang tepat, antara model pemerintahan yang membatasi kekuasaannya untuk melindungi penduduknya ataukah pemerintahan yang melindungi penduduknya melalui model organisasi yang memaksimalkan kekuasaan sebagai pelindung ?

Haruskah Negara Membantu Kita Menjadi Lebih Beretika?

Ketika isu-isu mengenai etika muncul maka akan muncul pula pertanyaan normatif seperti: akan jadi jalan terbaikkah jika negara tidak mengambil keputusan etik, sebanyak mungkin, kalau bisa diputuskan oleh perorangan (individu); atau seharusnya negara mengambil posisi pada isu politik, memutuskan hal apa yang etik, dan menuntut kepada warganya agar hidup secara konsisten dengan posisi etik yang diambil oleh negara? Siapa yang memutuskan apa yang etik-individu ataukah negara? Pertanyaan ini cukup sulit untuk dijawab, barangkali tidak ada pertanyaan normatif dalam ilmu politik yang lebih sulit untuk dijawab.

Negara secara rutin memperkuat posisi etik. Singkatnya ketika negara memberikan dan memperkuat hukum untuk melawan segala macam tindakan yang tergolong kriminal, negara menentukan kode etik pada suatu penduduk. Dengan kata lain, kita mungkin menerawang sejarah dari teori politik untuk melihat bahwa para filsuf tidak menyetujui dalam hal mengapa seperti halnya penekanan seharusnya diminimalkan atau malah ditingkatkan. Beberapa ahli teori telah mengambil posisi bahwa negara seharusnya menghindar untuk menjauh dari keputusan moral individu, yang mana yang lain menyatakan bahwa negara seharusnya dilibatkan langsung dalam pembuatan keputusan.

Seorang filsuf Inggris, John Stuart Mill, berpandangan bahwa individu harus dibiarkan untuk melihat dan menilai hal-hal serta pertanyaan etis yang beredar di masyarakat untuk diri mereka sendiri. Mill berpendapat bahwa pemerintah tidak boleh ikut campur terhadap hal-hal individual (pribadi) jika tidak individual akan bersikap mengancam kepada yang lain, Mill menolak anggapan bahwa pemerintah mengetahui apa yang terbaik bagi semuanya.

TEORI POLITIK

Dalam interpretasi saya kali ini saya akan membahas mengenai negara, karena artikel ini banyak membicarakan mengenai negara. Andrew Heywood dalam bukunya Politics, memberikan lima kemungkinan kata kunci untuk mendefinisikan negara, yaitu:

v Negara merupakan sebuah kedaulatan

v Negara (lembaga negara) merupakan suatu pengakuan publik

v Negara adalah penggunaan legitimasi

v Negara merupakan instrumen daripada suatu dominasi

v Negara adalah gabungan dari wilayah teritorial

Kemudian saya akan membahas mengenai munculnya konsep negara, atau lebih tepatnya konsep negara-bangsa.

Asal dan Munculnya Negara-Bangsa (nation-state)

Banyak sekali pandangan mengenai konsep nation-state, karena sekarang sudah banyak ahli yang membuat konsep mengenai hal ini. Akan tetapi apakah nation-state itu?

nation-state adalah suatu hasil dari modern world; setiap bangsa harus mempunyai negara, akan tetapi nation-state itu harus memiliki kedaulatan. nation-state pertama kali muncul ketika perjanjian Westphalia pada tahun 1648, yang juga berakhirnya Perang 30 tahun antara kaum Protestan dan Katolik.

Menurut perjanjian Westphalia (1648), state didefinisikan sebagai berikut:

1. Legitimasi

Berarti bahwa seluruh state mempunyai hak untuk berada dan pemerintah mempunyai otoritas untuk melakukan tugasnya karena hal tersebut sah (lawful).

2. Sovereignty

Hal ini berarti tidak ada otoritas yang lebih tinggi dari suatu negara. Seperti PBB yang terdiri dari berbagai negara, akan tetapi PBB tidak dapat mencampuri urusan atau kedaulatan suatu negara. Karena setiap negara memiliki hak untuk mengurus dan menentukan nasibnya sendiri.

3. Formal Obligation

Suatu aturan yang dibuat berdasarkan hukum internasional yang digunakan untuk mengimplementasikan kesepakatan untuk melanjutkan suatu kelegitimasi suatu pemerintahan ke suatu negara[1].

Dalam hubungan internasional (sebagai suatu disiplin ilmu) nation-state diutamakan, sebab hubungan internasional itu sendiri muncul karena adanya nation-state. Konsep nation-state diuraikan menjadi 2 bagian, yaitu:

  1. State (statism), sesuatu yang mengungkapkan kelebihan suatu negara dibahas dalam statisme. Dikatakan statis karena itu rigid, sebab state mempunyai kedaulatan yang tidak bisa diganggu gugat dan kedudukan setiap negara adalah sama ditinjau dari segi kedaulatannya.
  2. Nation, dalam konsep ini akan berhubungan dengan nation itu sendiri, nationalism dan national.

Pihak yang pertama memunculkan konsep nation-state adalah Inggris, Prancis dan Jerman. Namun mereka jugalah yang melanggarnya, yakni melalui praktek kolonialisme dan imperlialisme. Dengan demikian, konsep nation-state itu sendiri tidak pernah pasti, karena tidak pernah terpisah dari konsep lain.

Dalam Revolusi Prancis, konsep nation-state itu berkaitan dengan:

  1. Kebebasan manusia
  2. Demokrasi

Dalam negara-negara Arab (terutama yang Islam), konsep nation-state itu tidak pernah pasti, mereka menyebutnya Quaste State, sedangkan di Afrika dinamakan Flag State, sebab menurut mereka konsep nation-state yang utuh didalamnya harus benar-benar diterapkan human rights dan democracy. Nation-state menurut pandangan tradisional mempunyai konsep : behavior of state dan the interaction of each other (perilaku sebuah negara dan berhubungan yang satu dengan yang lain).

Suatu negara harus mempunyai area tertentu dibawah pemerintahan yang berdaulat (territory) dan rakyat (citizen). Setiap warga negara (citizen) mempunyai kewajiban (obligation) dan benefit atau keuntungan dari negara, yaitu kewajibannya adalah pembayaran pajak terhadap negara dan keuntungannya adalah infrastruktur dari pemerintah.

Definisi mengenai negara

a) Max Weber :”The state is a human society that (succesfullly) claims the monopoly of the legitimate use if physical force within a givven territory”.

b) Logemann :”De staat is een maatschappelijke organisatie,die tot doel heeft om met haar gezag een bapalde samenleving te ordenen en te verzorgen”.(Negara adalah suatu organisasai kemasyarakatan yang bertujuan untuk dengan kekuasaannya mengatur dan mengurus suatu masyarakat tertentu).

c) Harold J Laski :”The state is society which is integrated by possesing a”. coercive authority legally supreme over any individual or group of human beings living together and living together for the satisfaction of their mutual wants.Such a society is a state when the way of live to which both individual or association must conform is defined by a coercive authority binding upon them all

d) Roger H.Soltau:”The state is agency or authority managing or controlling these (common) affairs on behalf of and in the name of the community”.[Negara adalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur dan mengendalikan persoalan-persoalan bersama ,atas nama masyarakat].

e) J.K.Blunthscli :”The state is a combination of a men in the form of government and governed on a definite territory,inited together into a moral organized masculine personality,more shortly,the state is plitical organized national person of a definite country”.(Negara merupakan assosiasi manusia dalam bentuk pemerintah dan yang diperintah pada suatu daerah tertentu dan dipersatukan kedalam pribadi moral kelaki-lakian yang terorganisir,atau lebih singkat lagi,negara adalah suatu pribadi nasional dari suatu negeri yang terorganisir secara politis.

Syarat berdirinya suatu negara:

1) Penduduk,yakni sejumlah orang yang berkediaman tetap dalam suatu wilayah tertentu yang dijadikan wilayah negara;

2) Wilayah atau daerah,ialah suatu bagian tertentu yang didiami secara tetap oleh penduduk negara;

3) Pemerintah,yaitu organisasi politik yang menyatakan dan melaksanakan kehendak serta undang-undang negara;

4) Kedaulatan,yaitu kekuasaan tertinggi suatu negara terhadap unit-unit dalam batas wilayah negara serta kebebasan negara dari suatu kekuasaan lain yang berada diluar negara.

Sifat-Sifat Negara

Negara sebenarnya memiliki sifat-sifat yang berlaku mutlak, di antaranya adalah:

f) Sifat Memaksa: Negara memiliki sifat ini sehingga seluruh warga negara harus mematuhi segala aturan yang berlaku di dalam negara itu. Sifat memaksa ini bisa berarti paksaan secara fisik maupun paksaan secara mental, paksaan ini berifat legal.

g) Sifat Monopoli: Negara bersifat monopoli maksudnya apa yang menjadi tujuan negara harus dilaksanakan oleh semua warga negara. Warga negara tidak boleh memiliki tujuan lain.

h) Sikap Mencakup Semua: Apa yang dimaksud di sini adalah semua peraturan perundang-undangan harus berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali. Kondisi seperti ini memang perlu, sebab jika seseorang dibiarkan berada diluar ruang lingkup aktivitas negara, maka usaha negara ke arah tercapainya tujuan masyarakat yang dicita-citakan akan gagal.

Konsep Kedaulatan

Nation-state mempunyai hubungan dengan sovereignty state yang dalam hal ini adalah kedaulatan rakyat. Negara yang berdaulat muncul setelah Revolusi Prancis merupakan negara yang pertama kali memiliki kedaulatan. Istilah sovereignty pertama kali diperkenalkan oleh Jean Bodin-namun tujuan Bodin memperkenalkan sovereignty adalah untuk mempertahankan kekuasaan kerajaan Perancis (pada tugas individu kedua sudah saya bahas). Dimana yang disebut negara berdaulat karena negara tersebut memiliki kedaulatan. Pada waktu itu yang dimaksud dengan kedaulatan adalah raja, dengan tujuan membentuk kekuatan dalam rangka justifikasi.

Menurut Jean Bodin, pada dasarnya raja atau negara berdaulat atas hak miliknya. Peraturan raja sama dengan peraturan Tuhan. Sehingga otomatis apabila menuruti peraturan raja, maka peraturan Tuhan juga akan terpenuhi. Realisme menjadikan negara menjadi aktor utama karena negara berdasarkan dengan adanya kedaulatan, negara tidak dapat diganggu keberadaannya sebagai aktor utama.

Kedaulatan dibagi dua, yaitu:

  1. Internal Sovereignty

Suatu negara berdaulat apabila menguasai seluruh tanah airnya termasuk di dalamnya yurispudensi yang juga meliputi orang-orang di dalamnya. Sifat ini disebut Internal Sovereignty. Konsekuensinya adalah negara-negara dianggap mempunyai kedaulatan dalam negara tersebut dan hak memonopoli hal yang ada pada negara tersebut. Kedaulatan diperkuat dengan adanya PBB yang menumbuhkan bahwa kedaulatan tidak dapat diintervensi, bahkan PBB sekalipun. Karena tidak dapat diintervensi, kedaulatan menjadi hambatan negara lain bila terjadi sesuatu dalam negara tersebut, contohnya pelanggaran HAM dalam suatu negara.

  1. External Sovereignty

Yang dimaksud dengan External Sovereignty adalah pengakuan kedaulatan dari negara lain terhadap negara yang berdaulat. Pengakuan kedaulatan antara negara satu dengan negara lainnya dikenal dengan resiprocity. Dua negara atau lebih dapat melakukan hubungan kerja sama karena saling menghormati kedaulatan satu sama lain. Oleh karena itu, kedaulatan menjadi sarana kekuatan dan akhirnya memunculkan konsep balance of power dimana negara-negara mempunyai kekuatan yang berbeda tetapi kedaulatan yang sama.

Secara umum kedaulatan dapat dibagi menjadi dua, yaitu kedaulatan internal dan eksternal. Kedaulatan internal menyangkut kepada prinsip yang melegitimasi organisasi dan kontrol politik internal. Kedaulatan internal atau disebut juga kedaulatan empiris (empirical sovereignty) berkaitan dengan rakyat, wilayah, dan kewenangan yang diakui (recognized authority).

Sifat-sifat kedaulatan :

  1. Tidak ada otoritas yang lebih tinggi dari pada suatu negara.
  2. Tidak ada negara atau organisasi internasional yang mengganggu kedaulatan suatu negara.
  3. Negara berhak membuat semua kebijaksanaan atau keputusan untuk warga negaranya.

Kedaulatan atau Sovereignty adalah ciri atau atribut hukum dari negara-negara dan sebagai atribut negara dia sudah lama ada, bahkan ada beberapa pendapat bahwa kedaulatan itu mungkin lebih tua dari konsep negara itu sendiri. Sobereighnity (bahasa Inggris) mempunyai arti yang sama dengan sovereiniteit (bahasa belanda), yang berarti tertinggi. Membicarakan tentang kedaulatan berarti membahas tentang kekuasaan, sebab pengertian atau makna kedaulatan adalah konsep mengenai kekuasaan yang tertinggi untuk memerintah dalam suatu negara. Kedaulatan negara berintikan minimal tiga hal: yaitu pemerintahan nasional yang berkuasa ke dalam dan keluar; Tentara Nasional sendiri dan mata-uang sendiri. “An own government; an own army and an own coin system. Kalau minimal tiha hal ini tidak dimiliki oleh negara, maka ia tidak berdaulat penuh.

Sekarang saya akan memulai untuk membahas tentang beberapa pertanyaan yang mendasar dalam politik.

Tujuan apa yang seharusnya diperjuangkan oleh Negara?

Suatu negara yang memiliki berbagai suku bangsa dan ras berupaya membentuk suatu bangsa baru dengan identitas budaya yang baru pula. Hal ini dimaksudkan supaya negara itu bisa bertahan lama dan mampu mencapai tujuan tertentu yang sudah didambakan. Dalam hal ini (apakah tujuan yang seharusnya diperjaungkan oleh negara ?) saya cenderung utuk setuju terhadap pendapat dari Hobbes. Alasannya adalah karena menurut saya pendapat Hobbes lebih logis daripada pendapat Plato. Hobbes menekankan bahwa tujuan yang harus diperjuangkan oleh negara tidak bisa ditentukan oleh kita selama kita sendiri belum mengerti dan belum bisa menjelaskan tentang “apa itu sifat manusia ?”. Jika kita amati sebenarnya sifat manusia itu tidak pernah puas terhadap segala hal, apapun itu. Ada pepatah Cina yang berbunyi “walaupun batu dapat menjadi emas tapi hati manusia takkan pernah puas”. Dari pepatah ini saya menjadi leih yakin bahwa sifat manusia memang demikian. Contoh yang paling nyata adalah ketika dulu Amerika memiliki tujuan untuk melindungi kepentingan Hak Asasi Manusia, maka sekarang mereka memiliki agenda keinginan baru, yaitu ingin menjadikan negaranya sebagai negara adidaya.

Haruskah Negara Meningkatkan Persamaan?

Persamaan dalam negara (menurut saya) haruslah dilaksanakan, faktor yang melatarbelakangi pilihan saya adalah karena melalui jalan persamaan maka kita bisa mangurangi ketimpangan yang terjadi. Hanya saja persamaan yang saya maksud adalah persamaan secara proporsional, bukan persamaan yang menyamaratakan segala hal. Bapak Wawan Darmawan pernah mengatakan bahwa Syariat Islam bila benar-benar diterapkan maka akan identik dengan konsep sosialis, hanya saja Syariat Islam tidak menyamaratakan segala hal. Dasar pemikiran seperti inilah yang saya gunakan sebagai acuan untuk setuju terhadapa peningkatan “persamaan”.

Haruskah Negara Menjadi Organisasi untuk Memaksimalkan Kekuasaan atau Organisasi untuk Menahan Kekuasaan ini?

Saya rasa negara harus menjadi organisasi yang menahan kekuasaan, sebab dalam artikel review bab sebelumnya pernah dijelaskan bahwa kekuasaan yang berlebihan (power over) dapat menimbulkan kekacauan dalam negara itu sendiri. Ingat! Ketika terjadi peristiwa Boston Tea Party di Amerika, di mana ketika Pemerintah Kolonial Inggris memaksakan pajak yang tinggi kepada warga koloni. Pemaksaan pajak yang tinggi ini bisa dikategorikan sebagai pemaksimalan kekuasaan dan menyebabkan adaanya pemberontakan yang dilakukan oleh warga koloni yang akhirnya menjadi salah satu sebab yang meruntuhkan kekuasaan kolonial Inggris di Amerika, sehingga Amerika menjadi negara yang merdeka. Selain itu melalui cara ini (menahan kekuasaan) maka insyaAllah kedamaian dan kerukunan dapat lebih cepat terealisasi.

Daftar Pustaka:

Budiardjo,Miriam.1988.”Dasar-dasar Ilmu Politik”.PT Gramedia:Jakarta

Duncan, W. Raymond dkk. 2003. World Politics in The 21st Century. New York: Longman.

Heywood, Andrew. 1997. Politics. London: Macmillan.

Jackson, Robert dan Georg Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sterling, Richard W dan William Scott. 1985. PLATO The Republic. New York: W.W. Norton & Company.

Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta.: PT Gramedia Widiasarana.


[1] W. Raymond Duncan, Barbara Jancar-Webster dan Bob Swittky. World Politics in the 21st Century.

Deaf.02.Konsep dan isu dalam ilmu politik

March 22, 2009


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-GB; mso-fareast-language:EN-GB;} h1 {mso-style-next:Normal; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:center; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; tab-stops:319.5pt; font-size:16.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:Arial; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; font-weight:bold;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-GB; mso-fareast-language:EN-GB;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 3.0in right 6.0in; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} p.MsoBodyTextIndent3, li.MsoBodyTextIndent3, div.MsoBodyTextIndent3 {margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.5in; margin-bottom:.0001pt; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:319.5pt; font-size:12.0pt; font-family:Arial; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/05/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/05/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/05/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/Gupta/LOCALS~1/Temp/msohtml1/05/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:75445066; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-672337288 67698713 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:360979095; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1551202274 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l1:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l2 {mso-list-id:527371962; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1360552092 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.75in; mso-level-number-position:left; margin-left:.75in; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l3 {mso-list-id:620109642; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1311299150 378058378 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l3:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; margin-left:2.5in; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l4 {mso-list-id:816383682; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-928879232 67698703 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l4:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l5 {mso-list-id:1058017839; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1993614852 378058378 67698713 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l5:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l5:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l5:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; margin-left:2.5in; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;} @list l6 {mso-list-id:1464351098; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-684431256 67698705 67698693 67698691 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 {mso-level-text:”%1\)”; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} @list l6:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} @list l6:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:117.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:117.0pt; text-indent:-.25in; font-family:”Courier New”;} @list l7 {mso-list-id:1537501030; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1809537444 134807565 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557 134807553 134807555 134807557;} @list l7:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
Konsep dan isu – isu dalam ilmu politik

Setelah kita mempelajari tentang mendefinisikan politik oleh para ahli politik, maupun para filosof pada masa Yunani kuno. Maka terdapat pula suatu konsep – konsep pada ilmu politik. Konsep – konsep dalam ilmu politik sangat berhubungan erat dengan isu – isu yang terdapat dalam politik kontemporer. Karena hampir setiap konsep akan menimbulkan suatu isu – isu yang berkaitan dengan konsep tersebut. Konsep – konsep inilah yang kemudian lahirnya sebuah pengetahuan bahwasannya politik merupakan ilmu yang sangat luas, dan banyak terdapat para ahli politikus yang memiliki berbagai macam konsep politik tersebut.

Makalah ini dibuat agar para pembaca dapat mengerti dan menambah wawasan mengenai konsep – konsep yang ada pada ilmu politik itu sendiri.

ü KEBEBASAN ( freedom)

Kebebasan menurut saya adalah suatu hal atau akibat yang membuat seseorang atau kelompok dapat bebas berbuat, bertindak, menyampaikan aspirasi atau pendapat, dan bebas lainnya sesuai keinginannya, akan tetapi kebebasan itu haruslah tidak menyimpang dari Undang – Undang dan peraturan – peraturan yang berlaku. Kebebasan merupakan konsep utama dalam politik. Berlin merupakan orang yang paling terkenal dalam menganalisis kebebasan. Bahkan ia telah menganalisis tentang kebebasan saat berakhirnya perang dunia ke dua, Dia membedakan kebebasan dalam dua konsep yang berbeda, diantaranya sebagai berikut:

  1. kebebasan yang bersifat negatif
  2. kebebasan yang bersifat positif

1. kebebasan yang bersifat Negatif

Berlin berpendapat bahwasannya Kebebasan negatif sangat cocok seperti pada kebiasaan umum dalam perkiraan politik itu sendiri. Kebebasan negatif berarti seseorang dikatakan “bebas” jika orang tersebut bukan subjek untuk dipaksa-paksa. Mereka “bebas” jika mereka dapat membuat dan bersikap seperti apa yang mereka inginkan dan sesuai dengan apa yang mereka pilih. Negara memberikan kebebasan sepanjang hal ini tidak mengganggu apa yang telah diputuskan bersama. Dalam konsep ini negara akan memusatkan perhatiannya pada tujuan membentuk masyarakat yang sama rata dan sederajat, untuk mencapai tujuan yang lebih baik dan bermanfaat.

2. kebebasan yang bersifat Positif

Berlin berpendapat bahwasannya Kebebasan positif itu melibatkan pendapat – pendapat yang berbeda dari bermacam-macam sifat negatif dan perbadaan ini telah diperlihatkan dan dikembangkan dalam sejarah pemikiran politik. Berlin menganggap bahwa pandangan positef dalam kebebasan diambil dari bahwa kebebasan itu tidak dapat dicapai dengan maninggalkan individu sendiran untuk berhasil dalam kehidupannya. Agaknya hal ini memungkinkan individu untuk mencapai kepandaiannya dengan latihan mengendalikan diri, Kebebasan positif bagi Berlin diperlukan untuk mengatasi rintangan bagi kebebasan itu sendiri, Karenanya konsep kebebasan positif ini dapat menyebabkan paradoks sebagaimana layaknya untuk mencapai paksaan bagi kebebasan yang diaplikasikan untuk individu oleh negara. Berdasarkan pernyataan Berlin model dari kebebasan positif mengasumsikan bahwa semua individu harus mengikuti jalan keluar dengan pemecahan rasional.

Jadi Berlin berpendapat mengenai dua konsep kebebasan tersebut, kebebasan negatif dikatakan sebagai kebebasan dari segala bentuk paksaan dan kebebasan positif sebagai kebebasan untuk mengembangkan rasionalitas diri. Analisis Berlin tentang kebebasan mendapatkan pernyataan yang berlawanan dari Maccallum Jr. Dia menyatakan kebebasan itu dipahami sebagai satu konsep yang tunggal. Bagi MacCallum, ada variasi kebebasan antara variasi-variasi konsepsi khusus mengenai perwakilan, paksaan, dan apa yang dilakukan atau dikembangkan.

Berdasarkan pernyataaan mengenai kebebasan tidak diragukan lagi perbedaan-perbedaan yang ada antara teori seperti Jean Jaques Rosseau, yang mana berlin merancang sebagai teori kebebasan positif, bagaimanapun perbedaaan-perbedaan ini tidak dilihat sebagai penghalang bagi kebebasan itu sendiri dimana orang-orang bebas untuk melakukan sesuai dengan kapasitas mereka untuk dapat terbebas dari batasan. Kebebasan tersebut yang akan membantu setiap individu dalam mengajukan pendapat dan hal kebaikan lainnya.

Pada tahun 1991, Miller secara umum. pada suatu laporannya mengenai kebebasan menunjukkan jalan diantara Berlin dan MacCallum. Dia melihat bahwa pernyataan Berlin tidak melakukan keadilan kepada berbagai macam pandangan mengenai kebebasan. Dia membedakan tiga cara merumuskan kebebasan, yaitu kebebasan republic, ideal dan liberalis sebagai bentuk-bentuk dari kebebasan. Kebebasan liberal disamakan dengan pendapat Berlin mengenai kebebasan negatif. Kebebasan republic diserukan sebagai kebebasan yang dimiliki oleh warga negara dalam berpartisipasi di dalam proses pemerintahan untuk membentuk kehidupan bersama yang lebih baik. Kebebasan idealis dipandang sebagai proses liberalisasi dimana seseorang mengatasi masalah atau paksaan yang ada di dalam dirinya seperti kecanduan obat atau untuk merealisasikan kebebasan yang ideal.

ü KASUS RUSHDIE (salah satu kasus yang berkaitan dengan kebebasan)

Kasus Rushdie adalah salah satu contoh kasus yang mengganggu dan menimbulkan berbagai reaksi yang berhubungan dengan kebebasan. Salman Rushdie mempublikasikan tulisan yang berjudul The Satanic Verses yang merupakan karya yang sangat fenomenal[1] . Buku ini berhubungan dengan masalah-masalah seperti migrasi,pengasingan, kematian dan adanya kebangkitan. Disebut fenomenal karena tulisan ini membuat masyarakat muslim menjadi gerah.

Setelah dipublikasikan Muslim dari seluruh dunia berkumpul dan memprotes isi tulisan ini karena dianggap telah melecehkan agama Islam. Dan menyakiti hati seluruh muslim secara umum. Tulisan ini dianggap dapat menyebabkan kerusakan terhadap citra Islam dan menghambat pertumbuhan Islam.

Ayatollah Khomeini kemudian mendeklarasikan fatwa kematian dalam menanggapi tulisan ini[2] . Namun Rushdie tetap mempertahankan tulisan ini. Dia berpendapat bahwa hal ini adalah suatu bentuk dari kebebasan Liberal. Bagi Rushdie kebebasan adalah kebebasan dalam mengekspresikan diri dalam bentuk apapun tanpa subjek atau paksaan dari siapapun. Sama dengan pendapat Berlin

Kasus Rushdie merupakan suatu bukti bahwa dalam hal ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan dalam kebebasan. Perbedaan pandangan pada masalah Rushdie tersebut dapat dijadikan asumsi sebagai perbedaaan konseptual mengenai pemahaman kebebasan

ü HAK (sesuatu yang sepatutnya layak didapatkan oleh setiap individu)

Hak merupakan konsep yang penting pada dunia politik. Hak biasanya dikaitkan dengan hukum dan keamanan legal di dalam kebebasan. Untuk mengatakan bahwa hak itu signifikan dan bersifat umum dimulai dari penghargaan oleh pengamatan politik dan publik oleh masyarakat umum. Pusat dari kontroversi tentang hak adalah pertanyaan tentang ada atau tidaknya hak Azasi. Tuhan dihormati sebagai pencipta hukum atau kodrat alam yang mana menetukan perintah-perintah moral yang harus diikuti. St. Thomas Aquinas teolog dan filsuf pada abad ke-30, berpendapat bahwa hukum itu jelas, tapi ada hubungan antar macam-macam hukum tersebut. Pemikir seperti Hobbes dan Locke serta lembaga dan retorik dari Amerika dan Perancis menegaskan bahwa hak-hak azasi individu yang ditegakkan melawan individu lain dan dalam berbagai perlawanan yang lain dalam negara itu sendiri.

Ketika validitas hak azasi menjadi kontroversi, diskusi tentang hak menyangkutkannya dengan studi kasus Hohfield ‘Fundamental Legal Conception’ (1919). Hohfield memebedakan dengan jelas tipe-tipe hak yang dinamakan kebebasan, tuntutan, kekebalan dan kekuatan. Yang paling penting dalam menandakan hak adalah hak kebebasan dan hak untuk menuntut. Hak kebebasan adalah hak individu yang dimiliki oleh semua individu. Hak menuntut adalah tuntutan dari individu yang satu terhadap yang lainnya. Hak kekebalan dan kekuatan merupakan hak yang lebih khusus lagi.

Hak juga dibedakan secara positif dan negatif. Perbedaannya dikemukakan oleh Berlin, Bary (1981), dan Cranston (1973) juga membedakan antara hak negatif dan positif.

ü HAK BINATANG

Dewasa ini banyak tuntutan dari sebagian masyarakat untuk membuat hak-hak khusus mengenai binatang. Hal ini disebabkan oleh penggunaan binatang untuk percobaan hingga mencapai lima juta binatang tiap tahunnya di Inggris. Tapi keinginan untuk mewujudkan hak-hak khusus bagi binatang ini kurang mendapat dukungan luas. Karena menurut beberapa orang berpendapat bahwa binatang tidak perlu diadakan penentuan hak – hak untuk binatang itu sendiri.

Penolakan ini didasarkan pada kenyataan bahwa manusia berbeda dengan binatang. Manusia mempunyai kemampuan superior yang memberikan mereka hak konsiderasi moral. Dan binatang – binatang juga tidak memiliki akal pikiran seperti manusia.

ü PERSAMAAN

Pendapat-pendapat oleh para ahli maupun setiap manusia mengenai persamaan hak masih diperdebatkan. Seorang filsuf Yunani kuno yang bernama Plato menyebarkan isu tentang keadilan dan persamaan hak dalam semangat mengembalikan konsep kesederajatan manusia. Sia berpendapat bahwa keadilan melibatkan kepentingan orang yang berbeda-beda, keadilan berisi tentang bagaimana kita memberi seseorang sesuai dengan haknya dan Plato percaya bahwa ada perbedaan yang sangat jelas diantara orang-orang yang harus diperhatikan. Arti utama dari persamaan ini dalam kehidupan sosial dan konsep politik, berarti bahwa keadilan harus dilihat sebagai sebuah dasar dari nilai-nilai moral.

KONSEP – KONSEP DASAR POLITIK

Terdapat pula Konsep – konsep dasar dalam politik terbagi menjadi 5 bagian, diantaranya :

· Power ( kekuasaan )

· Authority ( kewenangan )

· Order ( ketertiban )

· Welfare ( kesejahteraan )

· Keadilan ( Justice )

Penjelasan dari konsep – konsep dasar politik, pertama adalah kekuasaaan ( power ).

1. Power ( kekuasaan )

Harold D. Laswell menyatakan bahwa ilmu politik adalah “the study of the shaping and sharing of power”. Beliau juga menyatakan dengan tegas bahwa keterkaitan politik dengan perspektif kekuasaan ( a political act as one performed in power perspectives )[3]. Kekuasaan adalah kemampuan seorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku[4] . Para ahli yang melihat kekuasaan sebagai inti dari politik, beranggapan bahwa politik adalah semua kegiatan yang menyangkut masalah merebutkan dan mempertahankan kekuasaan. Biasanya dianggap bahwa perjuangan kekuasaan (power struggle) ini mempunyai tujuan menyangkut kepentingan seluruh masyarakat.

Menguraikan konsep kekuasaan politik kita perlu melihat pada kedua elemennya, yakni kekuasaan dari akar kata kuasa dan politik yang berasal dari bahasa Yunani Politeia (berarti kiat memimpin kota (polis)). Sedangkan kuasa dan kekuasaan kerapa dikaitkan dengan kemampuan untuk membuat gerak yang tanpa kehadiran kuasa (kekuasaan) tidak akan terjadi, misalnya kita bisa menyuruh adik kita berdiri yang tak akan dia lakukan tanpa perintah kita (untuk saat itu) maka kita memiliki kekuasaan atas adik kita. Kekuasaan politik dengan demikian adalah kemampuan untuk membuat masyarakat dan negara membuat keputusan yang tanpa kehadiran kekuasaan tersebut tidak akan dibuat oleh mereka.

Bila seseorang, suatu organisasi, atau suatu partai politik bisa mengorganisasi sehingga berbagai badan negara yang relevan misalnya membuat aturan yang melarang atau mewajibkan suatu hal atau perkara maka mereka mempunyai kekuasaan politik.

Variasi yang dekat dari kekuasaan politik adalah kewenangan (authority), kemampuan untuk membuat orang lain melakukan suatu hal dengan dasar hukum atau mandat yang diperoleh dari suatu kuasa. Seorang polisi yang bisa menghentian mobil di jalan tidak berarti dia memiliki kekuasaan tetapi dia memiliki kewenangan yang diperolehnya dari Undang – Undang Lalu Lintas, sehingga bila seorang pemegang kewenangan melaksankan kewenangannya tidak sesuai dengan mandat peraturan yang ia jalankan maka dia telah menyalahgunakan wewenangnya, dan untuk itu dia bisa dituntut dan dikenakan sanksi.

Sedangkan kekuasaan politik, tidak berdasar dari Undang – Undang tetapi harus dilakukan dalam kerangka hukum yang berlaku sehingga bisa tetap menjadi penggunaan kekuasaan yang konstitusional. Power dapat juga diartikan sebagai kekuatan dan kekuasaan. Dimana seseorang dikatakan memiliki power ( kekuasaan ), dan apabila orang lain menjadi tunduk atau patuh kepada orang tersebut[5] . Undang – Undang

Power atau kekuasaan dapat digunakan pada 2 cara, yaitu:

a. Force, merupakan cara penggunaan power yang paling kuat. Adanya use of force violence atau kekuasaan dengan menggunakan kekerasan, dalam hal ini misalnya penggunaan senjata.

b. Influence (pengaruh), penggunaan pengaruh / mempengaruhi agar pihak lawan menjadi tunduk.

Power sering disalah artikan dengan capability (kapasitas). Padahal power itu lebih cenderung pada seruan yang sifatnya potensial sedangkan capability lebih bersifat real.

Contoh : Seseorang membawa pistol ke dalam bank. Pistol itu merupakan sebuah power karena punya potensi untuk mengancam. Lain halnya apabila orang tersebut sudah mengeluarkan pistol dan hendak menggunakannya, maka pistol tersebut menjadi capability.

Di dalam sebuah pemerintahan, ada pemisahan kekuasaan menjadi branch of power (cabang-cabang kekuasaan) yang memiliki fungsi berbeda.

Diantaranya ada:

a. Legislative power, fungsinya : kekuasaan untuk membuat UU.

b. Executive power, fungsinya : kekuasaan untuk melaksanakan UU.

c. Yudicative power, fungsinya : kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan UU.

Dalam Hubungan Internasional ada banyak konsep yang berkaitan dengan power, diantaranya yaitu:

· Balance of power

Dimana setiap negara diasumsikan mempunyai kekuasaan sehingga ada mekanisme penimbangan

Contoh : Pada masa perang dingin ada 2 kubu yang bertikai yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Jika salah satunya meningkatkan kekuatan militernya maka negara yan lainnya juga akan melakukan hal yang sama.

· Power politics

Berkaitan dengan national interest (kepentingan nasional) yang dikemukakan oleh Morgenthau. Merujuk pada national power antara lain unsure geografi, demografi, SDM, aspek militer, ekonomi, dll.

2. Authority ( Kewenangan )

Sesuatu yang menjalankan power (kekuasaan) pasti mempunyai kewenangan ( Authority )

Menurut Max Weber, ada 3 jenis kewenangan :

1) Traditional authority

§ kewenangan yang diturunkan sudah memiliki tradisi atau kebudayaan yang sudah melekat oleh diri manusia..

Contohnya adalah : seorang raja.

2) Kharismatic authority

§ kewenangan menurut pribadi seseorang atau kepribadian yang terlihat oleh masyarakat di sekitar.

Contohnya : Nabi Muhammad.

3) Rational authority atau legistic formalistic authority

§ kewenangan atas suatu dasar hukum.

Contohnya : seorang presiden

Ketiganya dapat saling melengkapi satu sama lainnya.

Kewnangan juga Berkaitan dengan legimitasi baik di pemerintahan maupun seseorang yang menjalankan pemerintahan. Tardapat 3 jenis legitimasi, antara lain:

a. Legitimasi turun temurun

b. Legitimasi kharismatic, akan tetapi sangat jarang

c. Legitimasi atas dasar hukum

Berkaitan dengan distribusi kekuasaan dimana lembaga – lembaga yang lebih rendah akan menjalankan suatu fungsi tertentu.

Contoh : Kebijakan otonomi suatu daerah merupakan suatu mekanisme dimana pemerintah pusat mendelegasikan kewenangan terhadap suatu pemerintah pusat.

3. order ( ketertiban )

Suatu konsep politik yang menyangkut paut mengenai ketertiban ini sangat bersangkutan dengan adanya keamanan. Karena apabila terjadinya suatu ketertiban disuatu negara, maka akan terciptanya suatu keamanan dalam negera tersebut. orang – orang atau warga negara tersebut jika mereka.

Menurut saya konsep politik ini berarti suatu keadaan dimana setiap manusia telah melakukan suatu pekerjaan, tindakan, perbuatan, perkataan yang telah sesuai dengan aturan yang berlaku. Sehingga dengan terciptanya ketertiban ini kegiatan – kegiatan politik yang ada di kehidupan warga negara tersebut akan baik dan tidak akan terjadi proses manipulasi, kecurangan – kecurangan lainnya.

4. Welfare ( kesejahteraan )

Tidak hanya pada ilmu ekonomi akan tetapi juga pada ilmu politik. Bahwa Hubungan antara ekonomi dan politik itu sangat dekat dan tidak dapat dipisahkan, Salah satu tokoh seorang pemimpin, yaitu : contoh tokoh ekonomi yang konsepnya berkaitan dengan politik .

Adam Smith dengan konsep “Invisible Hand “ yang mengacu pada kekuatan pasar dalam bukunya “The Wealth of Nation”. Tanpa konsep tersebut, tidak akan ada konsep liberalisme.

Karl Marx, mengemukakan bahwa kesejahteraan yang adil, tidak mungkin terjadi apabila masih ada kaum Borjuis / bangsawan. Keadilan harus sama rasa sama rata (konsep sosialis). Konsep Karl Marx ini memunculkan konsep turunan di bidang politik di antaranya : underdeveloped (keterbelakangan), interdependensi (ketergantungan), munculnya partai komunis sosialis dan system ekonomi sosialisme. Penurunan power yang berkaitan dengan welfare adalah kekuatan di bidang politik.

5. Justice ( keadilan )

Keadilan dalam politik merupakan konsep yang banyak diperdebatkan. Jhon Rawls merupakan salah satu politikus yang merumuskan teori politik modern mengajarkan banyak perubahan – perubahan dan perbaikan untuk mempertahankan keberadaan filosofis politik. Dalam suatu pernyataannya yang mengatakan ”A Theory of Justice[6] . Yang berarti teori keadilan. Dimana teori ini sangat membenarkan dan mempertahankan adanya suatu konsep politik , yaitu : ”Justice as Fairnes”. Hal ini menyatakan bahwasannya suatu warga negara memiliki potensi – potensi dalam diri mereka adalah bagian dari sifat dan keuntungan – keuntungan sosial tertentu.

Maka Jhon Rawls berpendapat bahwa setiap manusia dalam kaitannya sebagai warga negara, kita harus dapat menyadari potensi – potensi yang ada, dan kita asah dengan sebaik – baiknya. Dari John Rawls inilah lahir para pemikir – pemikir dari politikus diantaranya Robert Nozick, Taylor dan Walzer. Mereka merupakan para ahli yang setuju dengan teori – teori filsafat kuno.

Dalam bukunya Rawls menganalisis pembentukan masyarakat sebagai saah satu bentuk dari keadilan dari kerjasama sosial. Dalam analisisnya keadilan menurut Rawls memiliki dua dasar yang diutamakan yang pertama menjadi prioritas yang kedua.

Yang pertama adalah semua orang mempunyai hak dalam keadilan. Yang kedua adalah Hak-hak keadilan dalam sosial dan Ekonomi akan diatur oleh negara, agar semuanya mendapatkan keadilan yang sesuai. Pandangan ini kemudian dinamakan Keadilan Distributif. Yang pronsipnya adalah memberikan keadilan pada seseorang sesuai dengan kedudukannya dalam masyarakat dan kemampuan yang dimilikinya.

Karena pandangan inilah Nozick mengecam pendapat Rawls. Menurut Nozick hak-hak dalam masyarakat tidak dapat dipisahkan. Karena masyarakat pasti akan selalu berinteraksi. Tidak seharusnya hak-hak warga negara dipisah dan dibedakan. Semuanya harus memiliki hak yang sama. Sedangkan negara sebagai penentu keadilan terkesan membatasi warganya untuk dapat meneksplorasi dirinya, akibat dari pematasan hak sesuai kedudukannya.

Pandangan Rawls dan Nozick memiliki perbedaan dalam melihat kedudukaan individu Rawls menginginkan bahwa keadilan didistribusikan agar tidak terjadi ketimpangan sosial. Sedangkan Nozick menilai keadilan tersebut secara individualistic. Bahwa manusia seharusnya diberiu kebebasan dalam keadilan tersebut. Menurut Nozick yang paling utama adalah hak-hak individu. Dengan adanya hcampur tangan negara maka hak-hak individu berkurang.

KESIMPULAN

Pada ilmu politik itu sendiri terdapat konsep – konsep yang menunjang dan menambah wawasan kita terhadap ilmu politik itu sendiri. Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa sebenarnya dalam ilmu politik sangat menunjang sebuah arti kebebasan. Dimana kebebasan yang dimaksudkan dapat berupa kebebasan dari rasa takut, kebebasan dari para penjajah, kebebasan untuk berbuat, mengeluarkan pendapat, dan kebebasan lainnya.

Politik ini pun membicarakan tentang suatu hak. Terdapat dua hak yang penting dalam diri manusia, diantaranya : Hak kebebasan dan Hak menuntut. Hak kebebasan adalah hak individu yang dimiliki oleh semua individu. Hak yang berarti setiap individu bebas untuk hidup, melakukan kegiatan yang ia inginkan tetapi tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku. Hak menuntut adalah tuntutan dari individu yang satu terhadap yang lainnya. Hak kekebalan dan kekuatan merupakan hak yang lebih khusus lagi.

Adapun konsep – konsep dasar yang terdapat pada ilmu politik, seperti : kekuasaan ( power), kewenangan ( Authority ), ketertiban ( Order ), kesejahteraan ( Welfare ), keadilan ( justice ). Dimana pada setiap konsep – konsep politik tersebut saling keterkaitan. Contoh : suatu kekuasaan ( Power ) pemerintah mempunyai kewenangan ( Authority ) untuk menentukan suatu kebijakan – kebijakan yang sifatnya umum. Contoh lainnya : apabila disuatu Negara telah terciptanya suatu keadilan kepada setiap warga negaranya untuk mengelola dan menggunakan sumberdaya alam yang terdapat di Negara tersebuat, maka suatu kesejahteraan ( Welfare ) akan tercapai. Konsep – konsep tersebut tidak lepas dari gagasan demi gagasan dari para ahli politik.

Semoga makalah ini dapat digunakan dengan sebaik – baiknya oleh para pembaca, dan bermanfaat oleh para pembaca. Apabila terdapat kesalahan – kesalahan dalam penulisan maupun dalam penyusunan makalah, maka semua itu berasal dari penulis.


[1] Barry Axford, Concepts and Issues.

[2] www. Google. Com. Situs : hidayatullah. Com.

[3] Drs. T. May Rudy, S.H., MIR., M.Sc. Pengantar Ilmu Politik.

[5] Barry Axford, Concepts and Issues.

[6] J. Rawls, Theory of Justice, Oxford University.

Deaf.01.what is POLITICS?

March 22, 2009

1.1
WHAT IS POLITICS

“What is a man but questions? He’s for that—for asking honest, bold questions and humbly waiting for answers. Not asking boldly enough—and giving oneself flattering answers, that is the source of all errors “
(Rachel Van Hagen,in An Introduction to Politics by Roger H. Soltau)

Apakah Politik itu ?

Politik sangat menarik karena ketidaksetujuan orang-orang. Mereka tidak setuju tentang bagaimana mereka mereka harus hidup. Siapa yang harus mendapatkan apa? Bagaimana seharusnya energi dan sumber-sumber lainnya di didistribusikan? Mereka juga tidak setuju tentang bagaimana permasalahan-permasalahan semacam tersebut diselesaikan. Hal inilah yang menyebabkan Aristoteles berpendapat bahwa politik adalah “gurunya ilmu”: yang merupakan aktifitas antara manusia untuk memperbaiki kehidupannya dan menciptakan masyarakat yang baik. Politik adalah sebuah aktivitas sosial. Politik sebuah dialog bukannya monodialog.

Mengartikan Politik

Politik dalam artian yang luas, adalah aktifitas yang dengannya orang membuat, memperbarui, dan merubah peraturan hidup mereka. Politik terkait dengan fenomena konflik dan kooperasi. Pada satu sisi, keberadaan pendapat lawan, keinginan yang berbeda, kebutuhan yang bersaing menjamin ketidaksetujuan tentang peraturan hidup yang mereka gunakan. Di sisi lain, orang-orang menyadari bahwa untuk mempengaruhi peraturan-peraturan tersebut atua meyakinkan bahwa peraturan itu ditegakkan, mereka harus bekerjasamaa dengan orang lain.- menurut pendapat Hannah Andrent tentang definisi political power sebagai “beraksi dalam konser”. Oleh karena itu, inti dari politik sering digambarkan sebagai proses dari penyelesaian konflik, dimana para rival bisa didamaikan satu sama lainnya.Bagaimanapun, politik dalam pengertian yang lebih luas lebih diartikan sebagai pencarian penyelesaian konflik daripada pencapaiannya.

Semua pernyataan untuk megklarifikasikan pengertian politik bertemu dengan dua masalah umum. Yang pertama adalah asosiasi yang banyak digunakan di dalam bahasa keseharian. Lebih buruknya lagi, politik sering dianggap sebagai kata yang “kotor”: Kata tersebut dapat menggambarkan masalah, gangguan dan bahkaan kekerasan pada satu sisi, manipulasi dan kebohongan pada sisi lain. Pada tahun 1775, Samuel Johnson mengartikan politik sebagai ‘tidak lebih daripada rising di dunia’. Sedangkan padaa abad ke-19 Henry Adams menyatakan politik sebagai ‘Sistem Organisasi Hatreds’.

Pengertian kedua, dan kesulitan yang lebih keras lagi, adalah bahkan otoritas yang dihormati tidak mencapai kesetujuan tentang apa subjek tersebut. Politik didefinisikan sebagai dalam pengertian yang berbeda-beda: seperti penggunaan power, penggunaan kekuasaan, pengambilan keputusan bersama, alokasi sumber daya yang terbatas, praktek penipuan dan manipulasi, dan lain-lain. Kebaikan dalam definisi lebih lanjutnya adalah : “ Pembuatan, mempertahankan, dan merubah peraturan-peraturan sosial yang umum”. Bagaimanapun juga, masalah akan timbul saat definisi tidak terselesaikan atau saat definisi tersebut diperbaharui.
Perdebatan tentang ‘apakah politik itu?’ bermakna karena membuka beberapa dari pemikiran intelektual dan ketaksepahaman ideologi pada subjek akademi ini.

Perbedaan pandangan tentang Politik dijabarkan sebagai berikut :
• Politik sebagai seni pemerintahan
• Politik sebagai urusan publik
• Politik sebagai kompromi dan konsensus
• Politik sebagai kekuatan dan distribusi sumber daya

Politik sebagai seni pemerintahan

‘Politik bukanlah ilmu… melainkan sebuah seni’, Chancellor Bismarck mengatakannya kepada pemerintahan Jerman. Seni dalam pemikiran Bismarck ini adalah seni pemerintahan , penggunaan kontrol terhadap masyarakat melalui pembuatan dan penggunaan keputusan bersama. Mungkin inilah definisi politik paling klasik yang dikembangkan dari pengertian aslinya pada masa Yunani Kuno. Kata Politik didapat dari kata polis yang secara harfiah berarti negara kota. Pandangan ini sangat jelas buktinya dalam penggunaannya dalam keseharian: orang dikatakan ‘berpolitik’ saat mereka bekerja untuk umum atau melihat untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini, dugaan politik sebagai ‘ apa yang mempengaruhi negara’ adalah pandangan tradisional dari disiplin ilmu tersebut, refleksi dalam kecenderungan untuk pembelajaran akademik untuk fokus pada personal dan perangkat pemerintah. Untuk mempelajari politik merupakan inti untuk mempelajari pemerintah, atau lebih luas lagi, untuk mempelajari penggunaan kewenangan. Pandangan ini merupakan lanjutan dari tulisan David Easton (1979,1981) yang mengartikan politik sebagai ‘authoritative allocation of values’ (alokasi otoritas nilai-nilai). Maksud David Easton, politik mencakup bermacam-macam proses melalui respon pemerintah untuk menekan suatu komunitas yang lebih besar, secara khusus dengan mengalokasikan keuntunga, hadiah atau hukuman. Nilai-nilai kewenangan adalah yang diterima komunitas secara luas, dan dipertimbangkan mengikat jumlah dari masyarakat. Pada pandangan ini, politik diasosiasikan dengan polis. Maka dari itu, dengan keputusan otoritas yang formal membuat sebuah rencana atau aksi-aksi untuk sebuah komunitas.

Hubungan antara politik dan masalah-masalah pemerintah juga bisa menjelaskan kenapa imej uang buruk selalu menyertai politik. Ini karena didalam pemikiran masyarakat kini, politik sangat dekat berhubungan dengan aktivitas politikus. Lebih buruknya, politikus-politikus sering terlihat sebagai orang munafik yang mencari kekuatan untuk mereka sendiri tapi bersembunyi dibalik urusan-urusan umum. Lord Actons berkata “power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely” (kekuatan berhubungan dengan korupsi dan kekuatan mutlak pasti di korupsi). Akhirnya, banyak orang-orang yang memandang politik disudut pandang itu dan tidak diragukan lagi bahwa aktivitas politik akan selalu ada di kehidupan sosial. Tugas yang ada sekarang bukanlah menghilangkan keberadaan politikus dan mengakhiri politik, tapi memastikan bahwa kinerja politik masih didalam wadahnya dan tidak ada penyalahgunaan kekuatan pemerintah.

Politik sebagai urusan publik

Konsep yang lebih luas di bidang politik bergerak dari bidang pemerintahan yang terbatas kepaada apa yang disebut dengan ‘kehidupan politik’ atau ‘urusan publik’. Perbedaan antara politik dan non-politik sama dengan pembagian antara bidang kehidupan publik dan bidang kehidupan pribadi. Aristoteles dalam bukunya yaang berjudul Politics mengatakan bahwa ‘man is by nature a political animal’ (Manusia secara alamiah adalah hewan yang berpolitik). Yang Aristoteles maksudkan adalah hanya dalam masyarakat yang berpolitik manusia dapat mewujudkan kehidupan yang baik. Dari sudut pandang ini, kemudian politik menjadi sebuah aktifitas yang beradab, bertujuan untuk menciptakan ‘just community’. Perbedaan yang bersifat tradisional antara bidang umum dan pribadi sesuai dengan pembagian antara negara dengan masyarakat. Institusi-institusi dari sebuah negara bisa disebut sebagai ‘publik’ dimana mereka bertanggung jawab atas pengorganisasian kehidupan masyarakan dengan benar. Politik bukanlah, tidak harus, melanggar urusan dan institusi pribadi.

Sudut pandang politik sebagai aktivitas publik bisa dilihat dari sisi negatif dan positi. Dalam sebuah tradisi, kembali lagi ke Aristoteles, politik telah terlihat sebagai suatu yang mulia dan kegiatan rakyat yang senantiasa mendapat penerangan-penerangan dikarenakan karakter ‘publik’. Hal ini menunjang pendapat Hannah Andrent dalam bukunya The Human Condition (1958) bahwa politik adalah suatu bentuk yang sangat penting bagi aktifitas manusia karena interaksi yang berada di antaranya berpengaruh diantaranya bebas dan sama pada masyarakat. Teori-teori seperti J.J. Rosseau dan John Stuart Mill yang menggambarkan partisipasi politik sangat baik dalam pengertiannya sendiri terdapat dalam sebuah gambaran dengan kemiripan penyelesaian. Rosseau berpendapat bahwa hanya dengan cara langsung dan terus menerus dari semua masyarakat dalam kehidupan berpolitik sehingga akan ada yang dikatakan dengan ‘keputusan umum’. Sebaliknya, politik sebagai aktivitas publik juga bisa digambarkan sebagai bentuk dari interferensi yang tidak diinginkan.

Politik Sebagai Kompromi dan Konsensus

Politik secara spesifik dilihat sebagai salah satu cara untuk memecahkan konflik : yaitu dengan kompromi, konsiliasi, dan negosiasi, daripada dengan melalui kekerasan dan perlawanan terbuka. Ini mengapa politik digambarakan sebagai ‘the art of possible.’Aristoles juga berkata bahwa ‘polity’ adalah sistem pemerintahan yang ideal, seperti yang digabungkan dalam hal ini menggabungkan antaraa aristokratik dan demokratik. Dalam sudur pandang Bernard Crick, kunci menuju politik adalah menghilangkan kekuatan itu sendiri. Menerima bahwa konflik tidak bisa dihilangkan, Crick berargumen bahwa ketika sebuah kumpulan masyarakat dan tertarik akan kekuatan, mereka harus berkonsialisasi, mereka tidak bisa berebutan. Dalam sudut pandang ini politik mempunyai pengertian yang positif.

Politik Sebagai Power

Dalam definisi ini, politik diartikan lebih luas dan lebih radikal. Adrian Leftwich memproklamirkan politik sebagai inti dari aktivitas sosial bersama, fomal dan informal, umum dan pribadi, disemua kumpulan manusia, institusi dan masyarakat. Dalam hal ini, politik mencakup kesemua tingkat interaksi masyarakat, hal ini bisa ditemukan didalam keluarga, , kumpulan antara teman, bangsa dan mungkin juga dunia. Pada pengertian yang paling luas, politik memperhatikan masalah produksi, distribusi, dan penggunaan sumber daya untuk eksistensi sosial. Hal ini diangkat oleh Harold Laswell dalam bukunya yang berjudul Politics: Siapa mendapatkan apa, kapan, bagaimana? (1936). Dari sudut pandang ini politik adalah tentang keragaman dan konflik, tetapi esensinya adalah kelangkaan : Sebagai contoh mudah, ketika keinginan dan kebutuhan manusia takterbatas, alat pemuas kebutuhannya selalu terbatas.

Para feminis moderen memproklamirkan slogan ‘ The personal is the political’ yang menyerang pendapat bahwa politik adalah sektor publik, bukan pribadi. Hal ini diungkapkan oleh Kate Millet dalam Sexual Politics (1969:23), dimana ia membagi politik sebagai kekuatan tersusun dengan hubungan, susunan rencana untuk satu kelompok orang di kendalikan oleh kelompok yang lainnya.

Mempelajari Politik

Ketidaksetujuan tentang aktifitas politik sering dikaitkan dengan kontroversi politik sebagai disiplin akademis. Politik dilihat sebagai cabang dari filosofi, sejarah ataupun hukum.

Tradisi Filosofis

Asal dari analisis politik bermula dari masa Yunani kuno dan sebuah tradisi biasanya merujuk kepada ‘filosofi politik’. Plato dan Aristoteles biasanya diidentifikasi sebagai sumber pemikir. Ini termasuk sebuah keasyikan yang beresensi kepada layak, dan dapat di pertanyakan, mencerminkan ke sebuah pemikiran dengan apakah ‘harus’, ‘wajib’ dibawa dengan ini. Pemikiran-pemikiran mereka dapat tercermin dalam tulisan-tulisan pada teori-teori abad pertengahan, seperti seperti Augustine (354-430) dan Aquinas (1225-74).

Permasalahan utama yang diangkat oleh Plato, sebagai contohnya, mendeskripsikan keaadaan masyarakat yang ideal, dalam pandangannya mengambil bentuk kediktatoran yang didominasi oleh kelas-kelas bangsawan. Tulisan-tulisan tersebut dibentuk dengan dasar pendekatan ‘tradisional’ terhadap politik. Ini termasuk studi tentang analisis-analisis dari ide dan doktrin yang menjadi pemikiran inti dari politik. Walaupun analisis tersebut menghasilkan kritikan dan ketelitian, hal ini tidak bisa objektif dikaji lewat ilmiah.

Tradisi Empiris

Meskipun lebih susah dilihat daripada teori-teori normatif, sebuah deskriptif atau tradisi empiris dapat ditelusuri kepada masa-masa awal pemikiran politik. Hal ini dapat terlihat pada klasifikasi Aristoteles tentang konstitusi , dalam perhitungan realistis terhadap kenegaraan oleh Machiavelli , dan dalam teori sosiologi mengenai pemerintah dan hukum oleh Montesquieu. Analisis politik yang deskriptif mendapaatkan filosofinya dari dari doktrin yang empiris, yang telah menyebar dari abad ketujuh belas melalui kerjakeras John Locke dan David Hume. Diktrin yang empiris meyakini bahwa pengalaman adalah satu-satunya dasar dari ilmu pengetahuan, dan seluruh hipotesis dan teori harus diseleksi melalui proses observasi.Auguste Comte berbicara tentang positivisasi. Satu ilmu telah merasa menjadi satu-satunya ilmu yang secara nyata mendekati kebenaran, menekan untuk mengembangkan politik menjadi yang tidak ada tandingannya.

Tradisi yang Ilmiah

Teori awal yang mencoba mendeskripsikan politik dalam pengertian yang ilmiah adalah teori dari Karl Marx. Menggunakan konsepsi materialis yang disebutnya sejarah, Marx berusaha untuk membuka kekuatan yang mengendalikan pembangunan yang bersejarah. Inilah yang membuatnya mampu membuat prediksi masa depan berdasarkan hukum yang memiliki status yang sama sebagai bukti hukum sebagai ilmu alam. Hal terbaru untuk analisis yang ilmiah juga didapat pada abad ketujuhbelas oleh analisa tendensi. Pada tahun 1870-an, ‘ilmu politik’ diperkenalkan kepadaa universitas-universitas di Oxford, Paris dan Kolumbia, dan pada tahun 1906, American Political Science Review diterbitkan. Bagaimanapun, entusiasme tehadap politik sebagai ilmu memuncak pada tahun 1950-an dan 1960-an, paling kuat di Amerika Serikat, sebagai bentuk dari analisa politik yang muncul pada behaviouralisme.

Untuk pertama kalinya, hal ini memberikan politik kepercayaan penuh melalui surat kepercayaan, karena ini membuktikan apa yang sebelumnya dilarang; sikap objektif dan jumlah data melawan hipotesis bisa dibuktikan. David Easton memproklamirkan bahwa politik bisa mengadopsi metodologi dari ilmu alam, dan hal ini meningkatkan sebuah pengembangan belajar di area yang cocok untuk menerapkan metode pengembangan, seperti sikap memilih, berlegislasi dan sikap politik dan penglobian.

Pembangunan-pembangunan terkini

Di antara pendekatan teoritis politik yang disebut pendekatan teori politik formal , lebioh dikenal sebagai ‘ekonomi politik’, ‘teori pilihan publik’ dan teori pemilihan rasional’. Pendekatan ini menganalisis kepada contoh-contoh teori ekonomi dalam membangun contoh berdasarkan peraturan, biasanya tentang ketertarikan pada tingkah laku pada individu-individu yang terlibat. Pendekatan ini menyebakan efek pada analisis politik dalam bentuk institusi teori pemilihan publik. Pendekatan ini juga telah dilakukan dalam bentuk game theory, yang telah terbentuk lebih dari sektor matematis daripada sektor ekonomis . Contoh yang terkenal pada game theory adalah dilema narapidana.

Bagaimanapun, pendekatan dengan pilihan rasional telah diterima secara universal. Ketika para pendukung mengklaim bahwa hal ini sekaligus memperkenalkan secara luas kekerasan kedalam diskusi politik , kritik menjadi dasas dari asumsi-asumsi tersebut. Teori Kritik yang dikemukakan oleh Marxism adalah memperpanjang dugaan dari kritik kepada masyarakat dengan menjelaskan besarnya jarak yang saling bergantungan. Akhirya, secara umum tapi hal yang penting bahwa filosofi politik dan ilmu politik sekarang kurang dilihat sebagai mode penyelidikan yang nyata, dan masih sebagai rival. Termasuk juga, hal tersebut telah diterima sebagai cara yang mudah untuk menjauhkan pengetahuan politik.

Dilema Narapidana

Dua orang pelaku kriminal berada pada sel yang terpisah, berada dalam keadaan antara mengaku atau tidak satu sama lain. Jika salah satu dari mereka mengaku, tetapi memberi bukti untuk menghukum yang lain ia akan dilepaskan tanpa dakwaan, sementara temannya akan menanggung seluruh kesalahan dan dipenjara selama sepuluh tahun. Jika keduanya mengaku, mereka akan dipenjara selama enam tahun. Jika keduanya tidak mengaku, mereka hanya akan dianggap melakukan kriminalitas yang ringan dan dipenjara selama setahun.
Dalam pandangan konfrontasi dilema ini, diperkirakan kedua pelaku kriminal tersebut akan mengaku, takut jika mereka tidak mengaku akan mendapatkan hukuman terberat. Ironisnya, permainan ini menunjukkan bahwa sikap yang rasional dapat menghasilkan pada hasil yang terbaik (dapat menyebabkan total dua belas tahun di penjara). Pada efeknya, mereka dihukum untuk kesalahan bekerjasama atau saling mempercayai satu sama lain. Bagaimanapun, permainan ini terus berulang, dimungkinkan untuk para pelaku kriminal tersebut mengerti bahwa self-interest didapatkan dari kooperasi, yang akan mendorong mereka untuk menolak mengaku.

Dapatkah Pembelajaran Politik Menjadi Ilmiah?

Meskipun telah diterima secara luas bahwa pembelajaran politik harus ilmiah dalam pemikiran yang luas menjadi teliti dan kritis, beberapa telah meyakinkan bahwa hal itu dapat menjadi ilmiah dalam pemikiran yang lebih ketat. Hal ini telah dicapai oleh penganut Marxis dan positifis sosial dan menjadi ‘revolusi sikap’ pada tahun 1950-an. Bagaimanapun, usaha untuk mengkonstruksikan politik sebagai ilmu harus menghadapi tiga kesulitan-kesulitan:
Pertama, permasalahan data. Kita tidak dapat masuk ‘ke dalam’ manusia, atau melakukan eksperimen yang sama secara berulang-ulang . Tanpa data, kita tidak memiliki hal yang dapat dijadikan sandaran untuk hipotesis kita.
Kedua, ada berbagai kesulitan yang berasal dari keberadaan dari tersembunyi nilai-nilai. Gagasan di mana model dan teori dari politik adalah seluruhnya menghargai cuma-cuma sukar untuk mendukung ketika diuji lekat. Fakta dan nilai-nilai menjadi sangat lekat terjalin sehingga sering mustahil menghadirkannya terpisah.
Ketiga, ada mitos tentang kenetralan dalam ilmu-ilmu sosial. Bagaimanpun politik diartikan, ia menghasilkan pertanyaan berkaitan dengan struktur dan fungsi masyarakat dimana kita hidup dan tumbuh.

Konsep, Contoh dan Teori

Konsep, contoh dan teori adalah alat-alat dari analisis politik. Konsep adalah ide umum tentang sesuatu yang biasanya dilukiskan dalam satu kata atau frase pendek.Konsep adalah perangkat dengan dimana kita berpikir, mengkritik, berargumen, menjelaskan dan menganalisis. Hanya merasa dunia luar tidak ada didalam itu sendiri yang memberikan pengetahuan tentang hal tersebut. Supaya bisa mengerti tentang dunia kita harus dalam pengertiannya sendiri, menentukan artinya sendiri, dan ini lah yang dilakukan melalui konsep.

Ada kerawanan dalam konsep ‘demokrasi’, ‘hak asasi manusia’, dan ‘kapitalisme’. Max Weber yang mencoba menyelesaikan masalah ini dengan mengenali konsep tertentu sebagai jenis ideal. Pandangan ini memperlihatkan bahwa konsep yang digunakan dibangun dengan dasar tertentu atau pusat fenomena yang dipermasalahkan. Konsep revolusi ini dapat dihormati sebagai suatu jenis ideal dalam hal ini, yang memperhatikan proses yang penting dalam perubahan politik.
Contoh dan model memiliki pengertian yang lebih luas daripada konsep. Sebuah contoh biasanya dianggap sebagai hal yang mewakilkan sesuatu, biasanya dalam skala yang lebih kecil. Bagaimanapun, contoh yang konseptual tidak perlu menyerupai objek.
Istilah teori dan contoh sering kali tertukar dalam politik . Namun,teori berupa penjelasan yang sistematis dari data yang empiris. Sebaliknya, contoh adalah alat yang semata-mata digunakan untuk menerangkan, lebih seperti hipotesis yang harus dibuktikan.
Ada pemikiran bahwa dengan alat-alat analisis, seperti contoh dan teori mikro membentuk teori-teori makro.Teori- teori ini bekerja seperti menurut Thomas Kuhn dalam The Structures of Scientific Revolutions disebut paradigma yang terkait prinsip, doktrin dan teori yang membentukpenyelidikan intelektual.
Menurut Kuhn, ilmu-ilmu alam didominasi dengan paradigma yang sama, ilmu berkembang melalui berbagai seri revolusi dimana paradigma yang lama tergantikan dengan paradigma yang baru.

Hello world!

March 22, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.